Tas Bekal Seni Rajut Hasil Pelatihan PM Dibeli Pengunjung Kaza City Mall

Tas Bekal Seni Rajut Hasil Pelatihan PM Dibeli Pengunjung Kaza City Mall

Pelatihan handicraft tas & dompet Pejuang Muda Surabaya di Kaza City Mall, Sabtu (14/4/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Pelatihan membuat tas bekal seni rajut Pejuang Muda (PM) Surabaya telah memasuki babak akhir. Pertemuan pelatihan yang digelar di Kaza City Mall, Sabtu (14/4/2018), mengajak peserta pelatihan memahami teknik finishing membuat tas bekal seni rajut yang terinspirasi dari produk buah tangan yang dipinjamkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Setelah sebelumnya melalui beberapa tahapan membuat tas rajut bekal, pertemuan kali ini peserta diajarkan untuk memahami teknik finishing. Di mana para peserta diharuskan dapat menjahit tas bekal yang sebelumnya telah dirajut dengan menggunkan teknik sulam pita bermotif bunga,” cetus Yayuk Surat, mentor pelatihan handicraft tas & dompet Pejuang Muda Surabaya.

Pada kesempatan itu, Yayuk mengaku bangga dengan hasil pelatihan yang ditunjukkan oleh para peserta pelatihan. Dia mencatat, sekitar 75 persen dari 65 peserta pelatihan mampu memproduksi tas bekal rajut dengan kualitas di atas rata-rata.

“Kami puas dengan hasil ini. Mudah-mudahan, para peserta dapat mempertahankan kualitas produk yang dapat mereka produksi ini,” ujar perempuan berjilbab ini.

Sedangkan bagi para peserta yang masih mendapat nilai rata-rata dalam praktik membuat tas bekal rajut, ia berharap mereka mampu mengejar ketertinggalan lewat banyak berlatih di luar jam pelatihan.

“Saya mengimbau agar mereka dapat belajar sendiri. Jika ada yang belum paham dapat bertanya dengan para mentor. Jika malu, mereka dapat bertanya pada kawan-kawannya yang telah mendapatkan nilai diatas rata-rata,” papar Yayuk.

Ada kejadian yang menarik dalam pelatihan tersebut. Setelah para peserta mengumpulkan hasil karyanya, ada salah satu pengunjung Kaza City Mall yang menawar dan membeli satu produk.

“Saya sangat senang, karena salah satu produk dari para peserta di tawar dengan harga Rp 125 ribu,” ujar Wiwit Manfaati, koordinator mentor pelatihan handicraft Pejuang Muda Surabaya.

Wiwit lantas menjelaskan, jika hal tersebut dapat ditiru para peserta yang lain. Menurut dia, jika hasil produk yang diproduksi bagus dan cantik, jangan minder atau takut untuk menawarkan produk tersebut kepada para pelanggan.

“Kejadian ini saya harap jadi contoh pada para peserta yang lain. Intinya jangan takut tidak laku jika dapat menciptakan produk yang berkelas,” tegasnya.

Usai bertransaksi, Wiwit lantas memberikan uang hasil transaksi tersebut kepada pelaku usaha peserta pelatihan yang produknya laku. “Ini adalah bukti jika panjenengan semua tekun ikut pelatihan, maka pasti ada hasilnya. Yang penting laku,” ucap dia, lantas tersenyum. (wh)

Marketing Analysis 2018