Tantangan Dunia Industri Gula Zaman Now

Tantangan Dunia Industri Gula Zaman Now

Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dilaogue Radio Suara Surabaya, Jumat (27/7/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Banyak masyarakat tidak menyadari jika dunia industri telah berubah. Untuk menyikapi hal tersebut, masyarakat perlu bersikap tenang dan bertindak cerdas.

“Contohnya industri gula yang saat ini telah berubah. Harga gula di pasar dunia saat ini hanya sekitar Rp 4 ribi sampai Rp 4,5 ribu per kilogram. Jika dibandingkan dengan harga gula di Indonesia, harganya mencapai lebih Rp 9 ribu per kilogram, dengan catatan itu harga jual pabrik,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dilaogue Radio Suara Surabaya, Jumat (27/7/2018).

Menurut dia, secara jangka panjang, jika kita masih membuat harga gula di pasaran sebesar Rp 10-12 ribu per kilogram, maka nilai gula tidak ekonomis lagi.

Kresnayana menuturkan, isu tingginya komoditas gula di dunia industri ini sudah menjadi pokok bahasan sejak 3-4 tahun lalu. Untuk menyikapi hal tersebut, sepenuhnya bukanlah kesalahan pemerintah. Karena faktor dana penyertaan modal yang disediakan pemerintah memiliki batasan.

“Seharusnya sudah sejak lama masyarakat dan pelaku usaha industri merevitalisasi pabrik gula. Namun masalahnya program revitalisasi tersebut tidak bisa dilakukan secara asal-asalan,” jelasnya.

Di Jawa, sambung Kresnayana, keberadaan lahan tanam tebu itu sudah makin sempit dan makin mahal. Selain itu, petani-petani tebu yang ada sekarang juga tidak produktif seperti yang diinginkan sehingga input untuk industri gula ini sudah terlalu mahal.

“Jalan keluarnya, secara jangka panjang industri ini harus dipindah. Di antaranya ke daerah Kalimantan, Sulawesi, bahkan ada rencana untuk dipindahkan ke daerah Papua. Namun, rencana ini tidak semudah membalik telapak tangan. Pertimbangannya salah satunya terkait sumber daya manusia  yang sesuai dengan permintaan dunia industri,” beber pakar statistik ITS itu.

Untuk solusi jangka pendek, imbuh Kresnayana, harua ada revitalisasi peralatan pabrik gula di Jawa. Namun, untuk membeli mesin-mesin baru dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan waktu operasional pabrik gula dapat dibilang sangat singkat, yaitu sekitar 200 hari dalam 1 tahun.

Keberadaan mesin-mesin pabrik gula di Jawa telah beroperasi lebih dari 100 tahun. Kapasitas produksi yang dapat dihasilkan 120 juta. Konsumen gula di Indonesia sekarang sudah mencapai 250 juta.

“Jadi, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula ini suka atau tidak suka, kebijakan impor memang dibutuhkan,” pungkas dia. (wh)