Tanpa iklan, WhatsApp Punya 400 Juta Pengguna

Tanpa iklan, WhatsApp Punya 400 Juta PenggunaWhatsApp mengumumkan aplikasi tersebut kini dipakai 400 juta pengguna aktif setiap bulannya. Peningkatan itu menjadikan WhatsApp sebagai aplikasi pesan antar platform terbesar di dunia seperti dikutip dari Digital Spy.

“Hari ini kami dengan bangga mengumumkan bahwa berkat Anda kami meraih pencapaian yang belum pernah dialami layanan pesan mobile lain,” kata WhatsApp dalam pernyataan di blog resmi.

“Ini bukanlah angka dari pendaftar baru kami, tetapi jumlah pengguna yang aktif memakai layanan ini tiap bulan.”

Aplikasi tersebut mengklaim kesuksesan itu bersumber dari keputusan mereka untuk tidak menggunakan iklan yang “mengganggu” dan “mendistraksi”.

“Kami yakin bahwa tim kami dapat membuat layanan pesan yang cepat, sederhana, dan personal dan langsung melayani pengguna tanpa menyertakan iklan banner, promosi game, dan “fitur” lain yang mengganggu dan mendistraksi yang banyak ditemui di aplikasi pesan lain,” tulis pendiri WhatsApp Jan Koum.

Rekor angka tersebut membuat WhatsApp lebih unggul ketimbang para pemain besar lain di media sosial termasuk Twitter yang hanya mencapai 230 juta.

Terlebih lagi, studi baru-baru ini menyatakan WhatsApp menjadi aplikasi pesan yang lebih dipilih ketimbang Facebook dan BBM.

Tumbuh Pesat

Pertumbuhan WhatsApp tergolong pesat. Catatan enciety.co pada bulan April 2013 Pemimpin perusahaan aplikasi pengiriman pesan-pesan WhatsApp, Jan Koum, mengklaim layanannya mempunyai pengguna 200 juta.

Koum, seperti dikutip All Things D, mengatakan pengguna WhatsApp mencapai 200 juta pengguna aktif tiap bulan serta memproses pesan-pesan lebih dari 20 miliar pesan tiap hari. Dia mengklaim layanannya lebih banyak dibanding aplikasi Twitter

Aplikasi lintas sistem operasi ponsel pintar itu telah menarik perhatian sejumlah perusahaan besar Internet. Dalam enam bulan terakhir, WhatsApp telah dikabarkan menjadi target akuisisi Facebook dan Google.

WhatsApp, menurut Koum, tetap menolak pendapatan dari para pengiklan dan setia dengan filosofi anti-iklan karena percaya keuntungan akan mengikuti setelah mereka membangun platform aplikasi.

Sebagai gantinya, pengguna WhatsApp harus membayar 99 sen per tahun.

“Kami bangga dengan itu (anti-iklan). Siapa yang suka iklan? Kami sangat diserbu iklan-iklan setiap hari dan kami merasa ponsel pintar bukan tempat untuk itu (iklan),” kata Koum.

Koum menambahkan WhatsApp mengikuti jejak bisnis anti-iklan dari industri air dan gas dengan mengatakan, “Strategi monetisasi kami sederhana, satu dolar setahun. Jika kami melakukan sesuatu di luar itu (keuntungan WhatsApp), (keuntungan) itu hanya akan dapat di jalan (sampingan).” (ant/bh)