Survei Unair : 96,4 Persen Masyarakat Tolak KBS Jadi Hotel

Survei Unair : 96,4 Persen Masyarakat Tolak KBS Jadi Hotel
Tuti Budirahayu, Ketua Penelitian Sociology Center Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, saat jumpa pers

 

Konflik berkepanjangan yang menyelimuti Kebun Binatang Surabaya (KBS), mengundang perhatian berbagai kalangan pula. Dalam survei yang dilakukan Sociology Center Universitas Airlangga (Unair) kepada 250 responden, sebagian besar warga Surabaya menyatakan kecurigaannya atas kematian sejumlah satwa. Termasuk yang terbaru, kematian Michael, singa Afrika usia 17 bulan yang tergantung sling baja pada 7 Januari 2014 lalu.

Ketua Penelitian Tuti Budirahayu mengungkapkan, 78,4 persen responden survei ini anggap kematian satwa di KBS bukan hal biasa. “Menurut mereka, kematian beruntun satwa dalam setahun yang mencapai ratusan satwa tidak mungkin terjadi jika KBS dikelola dengan baik,” ujarnya kepada wartawan di Unair, Rabu (29/1/2014).

Lebih jauh, 73,6 persen responden survei ini menduga ada keterlibatan oknum pengelola KBS dalam kematian Michael. Sehingga, responden menganggap kematian satwa-satwa cenderung disebabkan kesalahan para petugas serta jajaran direksi KBS. Responden pun mengindikasikan adanya kesengajaan atas kematian beberapa satwa.

“Artinya, masyarakat curiga ada pihak tertentu yang sengaja membunuh singa Afrika itu,” paparnya.

Masyarakat setuju jika pengelola dan pegawai KBS dievaluasi oleh publik secara berkala. Sebesar 90,8 persen responden survei ini menganggap perlunya pergantian pegawai KBS dari jabatan yang paling rendah. Ini dikarenakan, masyarakat Surabaya menilai pegawai KBS saat ini bukan orang-orang yang memiliki kapabilitas dan dedikasi yang tinggi untuk peningkatan kualitas KBS.

Yang menarik, 98 persen responden survei ini menyatakan siap mendukung gerakan penyelamatan KBS. “Sebab, bagi mereka, KBS menjadi simbol budaya dan kebanggaan kota Surabaya,” ujar Tuti.

Sebesar 96,4 persen warga Surabaya menganggap keberadaan KBS berarti bagi mereka. KBS yang berdiri sejak 1916 itu, sudah menjadi identitas Arek-Arek Surabaya. Mereka pun tak setuju jika KBS dialihfungsikan sebagai pusat industri, mal, atau bangunan bisnis lainnya. “Ada 93,2 persen responden menolak jika KBS diganti,” imbuhnya.

Tuti mengatakan, survei dilakukan sebagai respon atas isu KBS yang makin meruncing akhir-akhir ini. Menggunakan metode jajak pendapat (polling) yang digelar tanggal 22-25 Januari 2014, 250 orang diambil dari 5 wilayah kota Surabaya. Rentang usia responden antara 12-80 tahun, untuk mengetahui persepsi masyarakat Surabaya tentang keberadaan KBS. Serta, pendapat mereka soal konflik-konfliknya.(wh)

 

Marketing Analysis 2018