Surabaya Wajib Bangun Tempat Rehabilitasi Narkoba

Surabaya Wajib Bangun Tempat Rehabilitasi Narkoba
Debora Djihartin saat jadi pembicara di BKKBN Jatim.

Pemerintah Kota Surabaya didesak segera membangun tempat rehabilitasi bagi pengguna narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Desakan tersebut dilakukan karena dari data yang ada, baik pengguna narkoba baru maupun pecandu mengalami kenaikan.

Dari hasil penelitian BNN yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) pada 2008 lalu menunjukan angka prevalensi pecandu Narkoba di Indonesia sebesar 1,9 persen atau sekitar 3,1 sampai 3,6 juta jiwa.

Pada 2011 angka tersebut naik menjadi 2,2 persen atau sekitar 3,7 hingga 4,7 juta orang. Provinsi Jatim sendiri pada tahun 2012 menduduki rangking pertama dari jumlah penyalahguna narkotika se -Indonesia.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya, Debora Djihartin mengatakan pihaknya berupaya meningkatkan koordinasi dengan pemkot Surabaya agar dapat membangun tempat rehabilitasi.

“Melihat kenaikan pengguna narkotika yang setiap tahun meningkat, setiap daerah diupayakan untuk memiliki tempat rehabilitasi bagi pecandu,” katanya di sela-sela acara advokasi tentang implementasi inpres nomor 12 tahun 2011 di lingkungan instansi pemerintah (BKKBN Provinsi Jatim), Kamis (12/12).

Saat ditanyakan berapakah idealnya setiap kota maupun kabupaten untuk memiliki tempat rehabilitasi tersebut. Debora tidak bisa memastikannya karena tergantung dari luas daerah dan pengguna narkoba itu sendiri.

Menurutnya, satu tempat rehabilitasi seperti Rumah Sakit Karima Utama (RSKU) di Jakarta sangat bagus. “Tetapi bila membangun seperti RSKU butuh biaya besar dan operasionalnya juga tinggi,” ujarnya.

Dia mengharapkan, Pemkot Surabaya bisa juga membangun di setiap kecamatan melalui puskesmas atau lembaga lainnya. “Agar kita dapat monitor secara dekat juga di tempat tersebut sebagai tempat wajib lapor bagi pecandu narkoba,” sambungnya.

Menurutnya tempat rehabilitasi bagi pecandu seperti di penjara bukanlah solusi untuk menyembuhkan. “Penjara tidak bisa menyembuhkan pecandu. Malah pecandu bisa jadi bandar narkoba bila ditaruh bersama bandar atau pengedar narkoba yang tertangkap,” jelasnya.

Bila dimasukkan ke rehabilitasi, para pecandu juga akan diterapi dan menjalani konseling hingga benar benar bersih dari narkotika. Agar pecandu tidak dipenjara, pihaknya saat ini terus berusaha memberi tambahan wawasan ke penegak hukum agar tidak mengirim pecandu murni ke penjara.

“Kita tidak bisa menyalahkan penegak hukum yang menempatkan pecandu ke penjara. Pecandu yang masuk penjara agar sembuh itu salah, tapi yang benar di rehabilitasi,” pungkasnya. (wh))

Marketing Analysis 2018