Soto Ayam Cak To Siap Menyasar Pasar Modern

Soto Ayam Cak To Siap Menyasar Pasar Modern

Soto Ayam Cak To Siap Menyasar Pasar Modern

Surabaya punya banyak pilihan kuliner. Cita rasanya nggak perlu dipertanyakan. Karena yang pasti lezat dan nikmat. Pilihannya pun sangat beragam. Salah satunya soto ayam Cak To Undaan Wetan. Jujugan kuliner ini bukan hanya menawarkan selera makan, tapi juga inspirasi usaha.

Sugianto alias Cak To, pendiri soto ayam Cak To, dikenal bersahaja. Dia juga tak kelewat mikir berat-berat saat memulai usaha. Cak To merintis bisnisnya dari bawah. Tekad kuat dan selalu kerja keras. Begitulah komitmennya dalam membangun usaha.

“Waktu itu masih pengantin baru, sekitar tahun 1976, saya memutuskan merantau ke Surabaya. Saya nekat jualan soto ayam. Saya berjualan pakai gerobak keliling kawasan Undaan ini,” tutur Cak To yang asli Lamongan itu kepada enciety.co.

Saban hari, Cak To menyiapkan seluruh keperluan untuk jualan soto. Mulai dari belanja ke pasar, meracik bumbu, sampai memasaknya. Istrinya, Supani, juga ikut membantunya.

Cak To melakoni jualan soto keliling tersebut sampai 10 tahun lebih. Tiap hari, ia sisihkan pemasukan dari hasil jualan. Rupiah demi rupiah. Hasratnya untuk membesarkan usahanya terus berkobar.

“Saya ingin mengubah nasib saya dan keluarga agar menjadi lebih baik lagi. Saya ingin buka warung soto sehingga gak jualan keliling lagi,” ucap dia, mengenang..

Doa dan harapan Cak To rupanya dijawab Sang Khalik. Setelah sepuluh tahun berjualan keliling, tepatnya pada tahun 1986, ia membuka warung soto ayam di Jalan Undaan Wetan (seberang Rumah Sakit Mata Undaan).

“Saat itu, untuk memenuhi warung soto ayamnya tiap hari menghabiskan enam ekor ayam kampung,” ungkapnya.

Kata dia, ketika membuka warung soto, dirinya sempat ragu. Kenapa? “Saya takut kehilangan langganan. Namun, istri saya terus menyemangati untuk terus berusaha agar sukses,” terangnya.

Benar saja, meski tidak keliling, soyo ayam Cak To tetap diminati. Kekhawatirannya kehilangan pelanggan tak terbukti. Jumlah pelanggannya pun terus bertambah. Bahkan, bukan hanya perseorangan, tapi juga instansi baik negeri maupun swasta. Pesanan dari kantor-kantor di Surabaya terus berdatangan. Tak terkeculi kantor di kompleks ruko sekitar warungnya.

Bukan hanya itu saja. Sejak tahun 1997, Cak To mulai melayani pesanan katering, pernikahan, hajatan dan acara-acara komunitas yang mendatangnya banyak orang.

Lantaran kesibukannya berjibun, Cak To kuwalahan mengerjakan sendiri dibantu istrinya. Ia lantas merekrut delapan orang pegawai dari orang-orang yang tinggal di sekitar Undaan.

Cengkeraman bisnis soto ayam Cak To makin keras. Tahun 2008, Cak To memberanikan diri membeli rumah cukup besar di Undaan Wetan. Ukuran 7,5 x 12 meter persegi dua lantai. Lokasinya sekitar 10 meter dari warung sotonya. Depot tersebut berada di Jalan Undaan Wetan Gang II.

“Depotnya masuk gang, tapi Alhamdulillah cukup membantu karena warung di depan sering penuh yang membuat pelanggan ngantri,” ungkap bapak tiga orang anak itu.

***

Soal rahasia kesuksesan, Cak To mengaku belum merasa jadi apa-apa. Kalaupun dipaksa ditanya, ia hanya menjawab harus telaten, sabar, dan ramah.

“Pelanggan adalah raja. Jadi bagaimana kita dapat memanjakan para pelanggan yang datang. Contohnya, kalu pelanggan minta balungan kulit ayam, atau campuran jeroan, kita harus siap dan memenuhi. Jika mereka puas, mereka bakal balik lagi,” terangnya.

Untuk menjaga kualitas produknya, Cak To selalu meracik bumbu-bumbu dasarnya. Resepnya sebenarnya sama dengan resep soto ayam pada umumnya. Di antaranya lada, ketumbar, bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, lengkuas, daun jeruk, dan daun salam. Namun, yang membedakan adalah takaran dan proses masaknya. Untuk bahan-bahan dasar terutama rempah-rempah dan ayam kampung, Cak To memesan khusus ke pedagang Pasar Wonokromo.

Untuk satu porsi soto ayam Cak To, ia membandrolnya Rp 17 ribu. Saat ini, Cak To ia mampu menjual kurang lebih 450 porsi soto per harinya. Untuk memenuhi jumlah produksi yang besar tersebut, dia dibantu 24 orang pegawai yang berasal dari warga sekitar depot.

“Dengan naiknya permintaan pasar, otomatis saya harus nambah permintaan bahan produksi. Contohnya ayam kampung, saat ini sedikitnya saya butuh 45 ekor sehari,” ungkap dia.

Dari hasil menjalankan usaha soto ayam, Cak To berhasil menyekolahkan ketiga anaknya, Wiwik Winarti, Liana, Andri Arta, hingga lulus perguruan tinggi.

Ke depan, dia sangat berharap, jika usaha yang telah ia rintis puluhan tahun  tersebut dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Pada tahun 2015, anak pertama Cak To mulai belajar mengembangkan usaha soto ayam ini. Dia membua cabang di Kertanya.

“Saya sesungguhnya gak ingin membuka cabang, takut rasa sotonya berbeda. Tapi karena anak saya ingin membua usaha, saya tak bisa mengelak,” tegasnya.

Cak To berharap suatu saat mampu mengembangkan usaha agar naik kelas dengan menyasar pasar modern. “Saya ingin soto ayam saya ini bisa masuk mal-mal di Surabaya. Karena dengan begitu kita juga dapat melestarikan makanan khas Indonesia,” pungkas dia. (wh)

Marketing Analysis 2018