Singa Afrika di Ambang Kepunahan

Singa Afrika di Ambang Kepunahan

Michael, singa Afrika yang mati nahas di Kebun Binatang Surabaya pada 8 Januari lalu, rupanya tak sendirian. Nasib saudara-saudaranya di kampung halamannya juga terancam. Bagaimana tidak? Menurut sebuah studi baru yang ditulis International Business Times tentang populasi singa, singa Afrika hampir menghilang dari Afrika Barat. Jumlahnya merosot menjadi hanya beberapa ratus individu. Kucing besar Afrika Barat yang menjadi simbol keberanian dan kekuatan sepanjang sejarah itu, kini di ambang kepunahan di seluruh wilayah.

Sebuah tim ilmuwan gabungan dari Afrika, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia lalu meneliti selama enam tahun. Peneliti dari Duke University itu menyurvei singa Afrika Barat,  mencakup 11 negara dan jarak lebih dari 1.500 kilometer.

Menurut hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One itu, hanya 406 singa yang tersisa di Afrika Barat. Kurang dari 250 dari mereka adalah singa dewasa. Dari 21 habitat singa diamati, hanya empat daerah terpencil mengkonfirmasi adanya populasi; satu daerah di Senegal, dua daerah di Nigeria dan dua daerah di daerah berbatasan dengan Benin, Niger dan Burkina Faso. Wilayah singa kini hanya mewakili 1,1 persen dari rentang sejarah yang pernah ada di Afrika Barat.

“Status singa-singa di Afrika Barat itu benar-benar tidak diketahui. Begitu mengerikan,” ucap koordinator survey, Philipp Henschel kepada National Geographic. Ia menjelaskan, pada banyak negara itu, mereka tidak mengetahui bahwa tidak ada singa lagi di daerah-daerah itu. Karena belum ada dana untuk melakukan survei.

Agar singa dapat menopang populasi dirinya sendiri, setidaknya diperlukan 50 ekor singa untuk memastikan keragaman genetic. Serta untuk menghindari perkawinan sedarah. Para peneliti mengatakan, satu dari empat populasi yang mereka amati memiliki lebih dari 50 singa.

“Ketika kami berangkat pada tahun 2006 untuk survei semua singa Afrika Barat, laporan terbaik menyarankan mereka masih bertahan di 21 kawasan perlindungan,” kata Henschel. Tim itu mengamati ke-21 kawasan tersebut, mewakili habitat singa terbaik yang tersisa di Afrika Barat. Hasil penelitian mengejutkan, hampir semua daerah yang disurvei tak ubahnya ‘taman-taman kertas’; tidak punya anggaran manajemen maupun staf patrol. Ditambah lagi, telah kehilangan semua singa dan mamalia besar ikonik lainnya.

Benua Afrika adalah rumah bagi kurang dari 35.000 singa. Lima puluh tahun yang lalu, terdapat 100.000 singa di Afrika. Penghancuran habitat, perburuan, dan pembunuhan balasan karena seekor singa membunuh ternak seorang warga desa, telah mendorong banyak populasi singa Afrika tersungkur ke tanah secara drastis.

Singa Afrika baru-baru tidak masuk di daftar US Fish and Wildlife Service sebagai spesies yang terancam. Meskipun beberapa kelompok konservasi satwa liar telah mengajukan petisi kepada pemerintah AS untuk melakukannya. Tak masuknya singa Afrika dalam daftar akan memungkinkan impor singa besar-besaran ke AS secara ilegal. Para konservasionis berharap dengan menekan para pejabat federal untuk bertindak, mereka membantu memastikan singa dapat umur panjang di Afrika Barat.

Menurut Washington Post, para pendukung perburuan mengatakan, praktik berburu singa sebenarnya bisa menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi masyarakat Afrika setempat. Yang sebagian dari pendapatan itu, membantu menjaga habitat singa.

Ini bukan studi pertama yang memprediksi masa depan singa Afrika yang mengerikan. Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan dalam jurnal Keanekaragaman Hayati dan Konservasi, menemukan bukti bahwa populasi singa benua telah mengalami penurunan sebesar 78.000 ekor dalam 50 tahun. Para peneliti memperkirakan hanya ada 67 daerah terpencil di Afrika di mana singa dapat bertahan hidup.(wh)

Marketing Analysis 2018