Selain Pelabuhan juga Butuh Perbaikan Jalan Raya

Selain Pelabuhan juga Butuh Perbaikan Jalan Raya

Teks: Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan dan Ketua Gabungan Cool Storage Indonesia Johan Suryadharma dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (13/1/2018). foto:arya wiraraja/enciety.co

Johan Suryadarma, Ketua Gabungan Cool Storage Indonesia yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), mengatakan sampai saat ini industri sangat dipengaruhi infrastruktur.

“Kurun waktu terakhir, di seluruh Indonesia ada empat pelabuhan yang dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian. Di antaranya pelabuhan di Surabaya, Semarang, Jakarta dan Belawan,” ulasnya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (12/1/2018).

Namun, infrastuktur yang harus dikembangkan bukan hanya pelabuhan, tetapi juga jalan raya. Karena, dengan bagusnya jalan raya membuat para pelaku usaha di bidang industri tidak cemas dalam mengembangkan usahanya.

“Selain dapat menjamin keteraturan jadwal produksi, kami sangat butuh kenyamanan dalam berusaha. Dengan bagusnya infrastukur seperti jalan raya membuat kami tidak waswas akan kerugian yang diakibatkan dari kecelakaan lalu lintas,” urai dia.

Baca juga: Pertumbuhan Sektor Industri Diperkirakan Paling Mencolok pada 2018

Komoditas Kopi

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan menjelaskan, wilayah Jawa Timur merupakan produsen komoditi perkebunan sejak zaman Penjajahan Belanda. Komoditi yang dihasilkan di antaranya kopi, kakao, karet, tembakau, tebu dan lain sebagainya.

Menurut dia, pada era 80-90an, Indonesia menjadi penghasil kopi robusta nomor satu di dunia. “Jika berbicara komoditas kopi, pasokan tersebar di dunia didominasi pasokan kopi arabika dengan prosentase 70 persen. Sedangkan untuk kopi robusta hanya sekitar 30 persen,” jelasnya

Kata dia, hal itu berbanding terbalik dengan jumlah pasokan kopi di Indonesia. Di negara kita jumlah pasokan kopi sangat didominasi oleh kopi jenis robusta dengan prosentase 90 persen. Lalu, untuk pasokan kopi arabika jumlahnya hanya sekitar 10 persen saja,” ungkap dia.

Isdarmawan menjelaskan, angka-angka tersebut menjadi pemandu bagi para pelaku usaha komoditas kopi, di mana yang musti meningkatkan jumlah produksi komoditas kopi jenis arabika.

“Kopi jenis ini merupakan komoditas yang sangat potensial karena permintaan pasar internasional sangat besar. Untuk itu, saya berharap ke depan kita dapat menggarap peluang ini,” tegas dia. (wh)

Baca juga: Ekspor Kopi dan Kakao Paling Terguncang