Sastra Silat Kho Ping Hoo Dalam Kanvas

Sastra Silat Kho Ping Hoo Dalam Kanvas

Sastrawan legendaris, Kho Ping Hoo, dibawa kembali ke tengah-tengah para pengagumnya. Pria yang lekat dengan kisah dunia persilatan itu dihadirkan dalam rangkaian ilustrasi di era yang berbeda. Sebanyak 40 karya yang pernah dibuat oleh dua ilustrator buku Kho Ping Hoo, dipamerkan di Galeri House of Sampoerna, Kamis (16/1/2014). Yanes dan Win Dwi Laksono, menampilkannya dalam rentetan bingkai kanvas. Yanes melukis ulang beberapa ilustrasi dari buku berjudul “Suling Naga” dan “Pedang Kayu Harum”. Sementara Win menampilkan ilustrasi – ilustrasi dari buku “Bagus Sajiwo”, “Kemelut Blambangan”, “Kidung Senja di Mataram”. Serta 5 karya hasil tafsir ulang terhadap karya Kho Ping Hoo, setelah lebih dari seperempat abad meninggalkan profesinya sebagai ilustrator.

Sastra Silat Kho Ping Hoo Dalam KanvasKho Ping Hoo (1926-1994) merupakan salah satu pengarang populer yang karyanya memiliki rekam jejak panjang di Indonesia. Selama periode tahun 1960 – 1990 karya – karya Kho Ping Hoo baik berupa cerita silat berlatar belakang Cina maupun novel sejarah berlatar belakang Indonesia cukup mendominasi bacaan populer pada masa itu. Untuk mengangkat kembali karya sastra Kho Ping Hoo agar lebih dikenal oleh generasi muda masa kini, House of Sampoerna (HoS) bersama Balai Soedjatmoko – Bentara Budaya Solo (BBS) menggelar pameran ilustrasi bertajuk “Ilustrasi Cerita Silat Kho Ping Hoo” mulai tanggal 17 Januari  –  9 Februari 2014 di Galeri Seni HoS.

Sepanjang kariernya sebagai pengarang cerita silat, Kho Ping Hoo telah menghasilkan lebih dari 200 judul cerita dan masing – masing judul terdiri dari sekitar 35 jilid. Beberapa karyanya yang begitu populer antara lain Suling Emas, Istana Pulau Es, Pendekar Bongkok, dan Kisah Sepasang Rajawali dan serial Bu kek Sian-su. Selain cerita silat, pengarang yang bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo ini juga menulis sejumlah roman, cerita detektif, dan novel bertema sejarah Indonesia. Karena itu, pembaca buku Kho Ping Hoo tidak terbatas pada kalangan etnis Tionghoa saja, tetapi juga dari berbagai lapisan masyarakat lainnya. 

Kepopuleran cerita silat Kho Ping Hoo pada masanya ternyata sedikit banyak mempengaruhi atau memberi pondasi bagi jalan pemikiran, orientasi hidup, dan moralitas kaum intelektual Indonesia. Salah satu penggemar Kho Ping Hoo adalah Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang semasa remaja banyak menghabiskan waktu dengan membaca cerita silat Kho Ping Hoo. Seperti kisah yang diungkapkan pada Rubrik Pesona Harian Kompas, Minggu 8 Desember 2013: “Kenapa senang berimajinasi, mungkin karena saya senang membaca komik. Kho Ping Hoo itu kan imajinatif sekali. Mulai dari bau pohon cemara saja ditulis gimana gitu, membuat saya berimajinasi jauh,” ungkap Risma. Selain Risma, beberapa tokoh penting Indonesia seperti BJ. Habibie dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sastrawan Ashadi Siregar, serta budayawan MH Ainun Najib juga menggemari cerita silat Kho Ping Hoo.

Melalui pameran “Ilustrasi Cerita Silat Kho Ping Hoo”, masyarakat dapat mengenal lebih dekat sosok Kho Ping Hoo melalui ilustrasi dan karya-karyanya. “Hingga yang tampak kemudian adalah sosok sastrawan yang mengemban misi multikulturalisme. Pemahaman dan penghargaan bagi siapa saja tentang hidup, yang hakikatnya terdiri dari keragaman ras, etnis, dan keunikan kebudayaannya,” ujar Hari Budiono, selaku kurator serta koordinator Balai Soedjatmoko.