Ritel Modern Tumbuh Lebih Cepat Dibanding PDB Perdagangan

Ritel Modern Tumbuh Lebih Cepat Dibanding PDB Perdagangan
Dwi Setyaningsih, Peneliti Enciety Business Consult

Bisnis ritel telah menjadi bisnis global dan Indonesia menjadi bagian di dalamnya. Dengan penduduk hampir 250 juta jiwa, menjadikan negara ini sebagai salah satu potential market terbesar di dunia.

Serbuan ritel asing tidak terhindarkan sejak awal tahun 1980-an dan makin gencar sepuluh tahun kemudian. Terlebih sejak keluarnya Keputusan Presiden No.118/2000 yang mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi PMA.

Selama satu dekade, perkembangan ritel modern sangat fantastis, baik dari jumlah gerai maupun nilai penjualannya. Catatan enciety Desk Research (eDR), jumlah gerai ritel modern mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57 persen per tahun atau empat kali lipat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sub sektor Perdagangan Besar dan Eceran.

Bisnis ritel modern dengan format hipermarket, supermarket, dan minimarket, kian marak menyusul maraknya pembangunan mal di kota-kota besar, dimana peritel besar dijadikan sebagai anchor tenant. Dan saat ini, peritel besar tersebutsudah merambah ke second dan third city.

Gaya berbelanja masyarakat Indonesia yang terus mengalami pergeseran ikut melatarbelangi tunbuhnya ritel modern. Mulai dari era tradisional ke era modern supermarket, kemudian modern hipermarket, lalu modern minimarket, dan konsep convenience store.

Fenomena tersebut secara otomatis ikut mendongkrak nilai penjualan ritel modern di akhir 2013. Capaiannya sekitar 150 triliun rupiah atau 14 persen dari nilai PDB sub sektor Perdagangan Besar dan Eceran (eDR).

Masih marak dan menariknya sektor perdagangan merupakan cerminan tingginya tingkat konsumsi masyarakat, bahkan konsumsi inilah yang merupakan penggerak utama pertumbuhan. Ini terlihat dari persentase konsumsi dalam PDB mencapai lebih dari 55 persen, jauh di atas jenis pengeluaran lainnya. Inilah kiranya yang dibaca para investor untuk terus mengembangkan properti ritelnya. (wh)