Risma jadi Pembimbing Bupati dan Wali Kota Kawasan Pantura

Risma jadi Pembimbing Bupati dan Wali Kota Kawasan Pantura
Wali Kota Kota Surabaya Tri Rismaharini bertemu Bupati Kabupaten Batang Yoyok Riyo Sudibyo di Balai Kota Surabaya, Rabu (2/3/2016). foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Wali Kota Kota Surabaya Tri Rismaharini yang berhasil mengembangkan penerapan dan pengembangan Government Resources Management System (GRMS), dijadikan pembimbing oleh para bupati dan wali kota di kawasan Pantai Utara (Pantura)

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bupati Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Yoyok Riyo Sudibyo usai ditemui oleh Tri Rismaharini di Balai Kota Surabaya, Rabu (2/3/2016).

“Saya pribadi menyampaikan undangan bagi senior yang juga saya anggap sebagai guru untuk mau datang ke Batang pada 13 Maret mendatang,” kata Yoyok kepada awak media.

Menurut mantan anggota TNI ini, undangan yang dimaksud adalah kegiatan Festival Anggaran yang akan diselenggarakan di Batang, Minggu (13/2/2016). “Kami ingin Mbak Risma membagikan kebaikan dan kesuksesan dengan teman-teman bupati dan wali kota di Pantura. Dan beliau sudah menyanggupi untuk hadir,” lanjutnya.

Yoyok juga memberikan apresiasi terkait inovasi dan sistem e-government yang digagas Wali Kota Tri Rismaharini. Menurutnya, sistem berbasis “e” yang diterapkan di Surabaya , seperti e-procurement, e-budgeting dan sebagainya, akan sangat bagus bila diambil oleh pemerintah pusat untuk kemudian mewajibkan kabupaten/kota mengaplikasikannya.

“Surabaya baik (sistemnya), kenapa tidak dijadikan sistem baku . Termasuk juga sistem di kota lain yang juga baik agar pembangunan berjalan lebih baik. Ini kan sudah diakui, celah kebocoran anggaran dan korupsi, bisa dipagari dengan baik,” sambung bupati kelahiran 23 April 1972 ini.

Dia mencontohkan, di Kabupaten Batang, telah mengaplikasikan beberapa sistem yang diambil dari Surabaya . “Batang sudah jalan. Tahun ini mulai e-planning. Itu lho tidak perlu waktu lama. Saya minta sistem dan nggak susah. Tetapi memang, seperti kata Mbak Risma, tinggal bergantung komitmen kepala daerahnya,” sambungnya.

Sebelumnya, ketika momen Hari Jadi Kota Surabaya ke-721 tahun, Wali Kota Tri Rismaharini menandatangani kerja sama E-Goverment lintas perkotaan dengan 14 kepala daerah. Ke 14 daerah yang melakukan penandatanganan lintas kerja sama yakni Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemkot Medan, Pemkot Tebing Tinggi, Pemkot Batam, Pemkot Pekanbaru, Pemkot Depok, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Pemkot Kediri, Pemkot Banjarmasin, Pemkot Balikpapan, Pemkab Kotawaringin Timur, Pemkot Palu, Pemkot Makassar dan Pemkab Jayapura.

Pemkot Surabaya membuka pintu lebar-lebar dan tidak keberatan bila keberhasilan dalam mewujudkan good governance dicontoh oleh daerah-daerah lain. ” Para Kepala Daerah tertarik bekerja sama dengan kita karena Pemkot Surabaya sudah mendapatkan ISO untuk pengamanan Teknologi Informasi sebagai wujud pakta integritas,” ujar Risma kala itu.

Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk Pemkot Surabaya memberikan softwere E- Goverment baik itu E-Budgeting sampai perizinan. Bahkan, bila beberapa kepala daerah tersebut membutuhkan training maka Pemkot Surabaya siap mengirimkan tenaga pelatihan.

Dalam pertemuan ini, ikut mendampingi wali kota, Sekretaris Kota Surabaya, Hendro Gunawan dan Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhamad Fikser.  Ada banyak hal yang dibicarakan oleh dua kepala daerah yang sama-sama menerima penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award 2015 ini.

Bupati Batang banyak bercerita perihal dinamika yang terjadi di kota nya, progres pembangunan kota , hingga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Pertemuan selama sekitar satu jam tersebut berlangsung akrab dan gayeng.

Menurut Bupati yang tampil sederhana ini, tidak sekali ini dirinya datang berkunjung ke Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya . Dan selama berkunjung, dia menyebut selalu diterima dengan ramah. Karenanya, dia mengaku heran dengan munculnya kabar yang sempat mencuat bahwa berkunjung ke Pemerintah Kota Surabaya itu susah.

Yoyok menganggapnya itu terjadi hanya karena miskomunikasi. “Susahnya di mana? Saya bolak-balik berkunjung ke Surabaya dan selalui ditemui dengan ramah dan bersahabat. Saya dijamu dengan sangat baik. Komunikasi dengan Bu Risma itu tidak sulit. Bagi saya, dalam hal mengutamakan tamu, Bu Risma itu seusai dengan akidah muslim,” ujarnya.

“Kalau berita yang kemarin itu saya pikir cuma miskomunikasi saja, jadi nggak usah dibesar-besarkan. Saya yakin tidak ada watak seperti itu di Mbak Risma. Saya udah sering ke Surabaya , bukan sekali ini. Ini tadi meski beliaunya sebenarnya ada kegiatan, kita tetap ngobrol sampai selesai,” tandasnya. (wh)

Marketing Analysis 2018