Rintis Bisnis Kuliner setelah Lepas dari Jerat Kartu Kredit

Rintis Bisnis Kuliner setelah Lepas dari Jerat Kartu Kredit

Johan Hendarto dengan produk buatannya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Keberanian acapkali datang saat krisis. Energi tiba-tiba membesar. Menyala-nyala. Berbuat dan bertindak mencari peluang  untuk menghasilkan agar mampu bertahan hidup.

Pengalaman itu pernah dirasakan Johan Hendarto. Bapak dua anak ini pernah mengalami masa pahit sebelum akhirnya bangkit menjadi pelaku usaha.

Ceritanya tahun 2006, Jojo (begitu ia karib disapa) berhenti kuliah di Jurusan Manajemen STIE Mahardika lantaran terlilit biaya. Dia lantas memutuskan bekerja. Yang disasar bisnis digital printing. Karena gak cukup modal, Jojo memberanikan diri utang kartu kredit.

Bisnis digital printing awalnya berjalan normal-normal saja. Namun, seiring perjalanan waktu, Jojo dihadapkan pada kondisi finansial yang sulit. Pasalnya, kebutuhan operasional tak sebanding dengan angsuran kartu kredit. Belum genap setahun, bisnis digital printing itu pun tutup.

Keputusan itu belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Sebab, Jojo masih harus melunasi tagihan kartu kreditnya. Untuk mengatasinya ia memilih bekerja sebagai admin di restoran Chinese food di Jalan HR Muhammad, Surabaya, 2007.

“Saat itu saya pikir mending ikut orang jadi pegawai. Tiap bulan dapat pemasukan. Saya bisa menabung dan bayar utang kartu kredit,” katanya ditemui enciety.co di rumahnya, Jalan Jarsongokali I, Surabaya, Selasa (15/1/2019).

Suami Siswati (34) ini, sempat menempati beberapa posisi. Yang paling tinggi dia sempat menduduki posisi wakil manager.  Jojo kemudian resign setelah bekerja sekitar 1,5 tahun bekerja di restoran tersebut, 

Tak lama, Jojo diterima bekerja di perusahaan supplier di kawasan Rungkut. Jojo mengaku senang karena gaji yang diterima lebih besar dibandingkan kerja di restoran.   

Namun nasib berkata lain. Sekitar empat tahun, Jojo harus menerima kenyataan tidak mengenakkan. “Tahun 2016, perusahaan supplier itu bangkrut. Saya kena PHK (pemutusan hubungan kerja). Saya menganggur,” tegas Jojo.

Yang menyakitkan, usai di-PHK, sisa gaji 10 bulan yang mestinya diterima Jojo dan pesangon yang dijanjikan perusahaan tak kunjung cair. Sementara utang kartu kredit yang sebelumnya bisa diangsur dengan gaji bulanan, kini  tak bisa lagi. Jadinya, utang kartu kredit pun menumpuk.

Pinjam Uang Mertua

Akhir 2016, Jojo tak ingin berpangku tangan. Dia harus memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia lalu merintis usaha kuliner. Modalnya pinjam uang mertuanya.

“Saya bikin tahu bakso. Ternyata laku. Saya bikin lagi sosis, pentol pelangi, dan pizza mini,” ungkap Jojo.

Jojo makin bersemangat mengembangkan usaha. Kali ini, ia menjajal jualan nasi bebek. Jojo terispirasi kawannya. “Kebetulan juga anak saya suka nasi bebek. Saya coba, kok rasanya enak. Saya kemudian kerja sama dengannya,” terangnya.

Beberapa bulan, usaha bareng temannya mengalami masalah. Omzet penjualan turun. Banyak pelanggan yang emoh datang lagi. Belakangan diketahui jika pelanggannya kecewa lantaran mereka mengganti daging bebek dengan mentok. “Kalau orang suka nasi bebek jelas tahu bedanya,” cetusnya.

Awal tahun 2017, Jojo sepakat tak melanjutkan usaha bareng temannya. Dia memilih jualan nasi bebek sendiri. Dia memasarkan di lingkungan sekitar. Dia juga memanfaatkan Facebook untuk pemasaran.

Aktif di medsos, Jojo kemudian tahu informasi tentang Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda. Kebetulan dia membaca postingan Agus Wahyudi, humas Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda. Jika ada pelatihan tiap Sabtu-Minggu di Kaza City Mall. Syaratnya cuma ber-KTP Surabaya.

Jojo dan istrinya, Siswati, kemudian mendaftar dan bergabung di program yang dirilis sejak 2010. Selanjutnya, dia aktif ikut pelatihan di cluster culinary business.

Rintis Bisnis Kuliner setelah Lepas dari Jerat Kartu Kredit

Usaha Jojo lamat-lamat merangkak naik. Dia merasakan banyak mendapat ilmu. Selain digital marketing, manajamen keuangan, branding, dan masih banyak lagi. 

“Alhamdulillah, usaha makin berkembang. Jaringan pemasaran makin bertambah. Yang senang lagi, saya juga bisa bikin laporan keuangan bulanan,” tegasnya, lalu tersenyum.

Kini, lewat brand Dapur Mungil Pak Jojo, berbagai produk kuliner dijual. Di antaranya nasi bebek, nasi ayam, pentol pelangi, tahu bakso, sosis bakar, pizza mini. Harganya dari Rp 15 ribu sampai Rp 85 ribu.

Rupiah demi rupiah diumpulkan. Hingga Jojo dan istrinya sepakat melunasi semua tanggungannya. Terkhusus utang kartu kredit. Saking senangnya, kartu kredit itu pun digunting istrinya, lalu diposting di Facebook sebagai bukti dia tak ingin terjerat utang lagi. 

Perkembangan usaha Dapur Mungil Pak Jojo menjadi perhatian mentor Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda. Sebulan, Jojo mampu meraup pendapatan Rp 16 juta sebulan. Untuk produksi sehari-hari dia dibantu 3 orang. Untuk penjualan, dia dibantu 6 reseller.  

Pada 18 November 2018 lalu, Dapur Mungil Pak Jojo dinobatkan menjadi Juara III Kategori Culinary Busines Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Award 2018.

“Saya sungguh bersyukur dengan semua ini. Rasanya seperti mimpi,” pungkasnya. (wh)

Marketing Analysis 2018