Restoran dan Warung Pinggiran

Restoran dan Warung Pinggiran

*Oleh: Suwandono

Tatkala karya tulisnya bermanfaat bagi banyak orang, saat itulah penulis merasakan bahagianya. Saya amat bersyukur bisa mencicipi bahagia macam itu karena diberi kesempatan menulis rutin di enam media massa ternama di Indonesia. Saya bisa mengukur tebaran manfaat itu dari komentar pembaca yang dikirim via email. Entah sudah berapa e-mail yang saya terima sejak pertama kali menulis. Saya tak sempat menghitungnya karena terus mengalir.

Isi emailnya berwarna-warni. Ada yang sekadar melontar pujian atau say hello saja, banyak pula yang mengajak diskusi tentang seluk beluk wirausaha. Bahkan, tak jarang ada yang curhat masalah pribadi. Sebisa mungkin saya menempatkan diri sebagai partner diskusi dan sahabat. Harapannya bisa tercipta komunikasi dua arah yang konstruktif. Bagi saya, komentar para pembaca tak ubahnya rahim energi yang selalu melahirkan tenaga dan ide baru untuk menulis.

Suatu ketika, ada email yang membuat saya trenyuh. Pengirimnya seorang santri di Gondanglegi-Malang. Ia mengaku tidak mudah untuk bisa membeli koran seminggu sekali karena keterbatasan uang saku yang dikirim orang tuanya. Namun, ia berusaha tetap membeli koran di hari tulisan motivasi saya dimuat. Meki untuk itu ia harus patungan dengan santri lainnya, atau merayu bendahara pesantren tempatnya menimba ilmu.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk anak muda gigih itu dan banyak orang lain yang punya keterbatasan serupa. Harapannya bisa menambah semangat serta menjaganya selalu membara sebagai tambahan bekal menyongsong masa depan yang cemerlang.

Keterbatasan finansial karena faktor “nasib” seperti keadaan santri itu tentu dialami jutaan orang. Tokoh hebat sekaliber Dahlan Iskan pun bernasib sama. Lahir dari keluarga miskin. Namun, fakta membuktikan bahwa keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh faktor bahan kehidupan yang dimiliki.

Saya akan berbagi kisah pengalaman makan di restoran dan warung sederhana. Kisah ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi santri yang haus prestasi itu serta banyak orang lainnya yang memiliki “nasib” serupa.

Pembaca koran ini tentu punya pengalaman makan di restauran mewah, tetapi rasa makanannya tidak enak. Saya sering mengalaminya. Padahal di tempat macam itu, bahan baku masakannya pasti bahan terbaik, kokinya pun bukan orang sembarangan.

Sebaliknya, kita tentu pernah makan di warung sederhana, tarifnya murah, tukang masaknya pun hanya pekerja rumah tangga biasa. Namun, rasa makanannya bikin lidah kecanduan. Pengalaman ini menjelaskan bahwa meski memiliki bahan-bahan terbaik dan fasilitas lengkap, belum tentu bisa menghasilkan makanan terlezat.

Terkadang, orang dengan bahan-bahan apa adanya dan peralatan yang mengenaskan justru mengerahkan segenap daya, seluruh gairah, perhatian, dan cintanya ketika memasak, sehingga bisa menghasilkan makanan super lezat.

Kesimpulannya, butuh sesuatu yang lebih dari sekadar bahan-bahan terbaik dan fasilitas lengkap untuk bisa menghasilkan masakan istimewa. Apa yang dilakukan dengan bahan-bahan itulah yang membuat cita rasanya berbeda.

Saya mengenal banyak orang yang memiliki bahan-bahan amat menyedihkan dalam hidupnya. Lahir dalam kemiskinan, keluarga broken home, haus kasih sayang, sekolah di pinggiran, lingkungannya pun memprihatinkan. Namun, segelintir kualitas yang mereka miliki mampu diracik dengan baik, hingga akhirnya meraih sukses yang mengagumkan.

Saya juga punya beberapa teman dengan bahan-bahan serta fasilitas terbaik dalam hidupnya. Lahir di ranjang emas, kasih sayang berlimpah, cerdas di sekolah, tampang OK, dan dikenal banyak orang. Namun, menyia-nyiakan masa mudanya dengan alkohol, ingar bingar dunia malam, tersesat di halusinasi narkoba, hingga terjerembab di pengabnya penjara. Hidupnya hancur tak menyisakan kebaikan. Mungkin Anda juga mengenal orang-orang macam ini.

Bila diberi kesempatan memilih, tentu kita akan memilih lahir dan tumbuh dengan bahan-bahan serta fasilitas terbaik. Sayangnya, kesempatan itu tidak ada. Kita tidak bisa memilih lahir dimana, dari rahim siapa, dalam keadaan bagaimana, dan seterusnya.

Saya sendiri terlahir dengan bahan dan fasilitas yang cukup memprihatinkan. Oleh karenanya, apa pun bahan dan fasilitas kehidupan yang kita miliki seharusnya tidak perlu menjadi hambatan meraih sukses.

Bila menyadari punya bahan yang kurang bagus, apa yang harus dilakukan agar bisa sukses? Kisah warung sederhana yang bisa menghasilkan makanan lezat itu patut menjadi pelajaran. Intinya, harus siap belajar, bekerja, berusaha, serta berdoa lebih keras dan cerdas dibanding mereka yang punya bahan kehidupan lebih baik.

Selain hal yang sifatnya teknis, dibutuhkan pula keyakinan yang benar. Keyakinan adalah sesuatu yang diyakini dan hidup dalam batin, yang entah sadar atau tidak, menentukan sikap dan tindakan kita. Keyakinanlah yang akan menjadi landasan berpikir, berbicara dan bertindak di masa sekarang dan akan datang. Jika punya keyakinan kuat bisa berhasil, semua langkah akan berjalan ke arah keberhasilan, demikian juga sebaliknya.

Ketika orang memiliki keyakinan berhasil, peluang suksesnya menjadi besar karena akan berjuang keras. Kalau pun mengalami kegagalan, akan berusaha lagi sampai akhirnya benar-benar berhasil. Sebaliknya, orang yang tidak yakin akan mudah menyerah sebelum berhasil.

Gabungan keyakinan dan upaya maksimal memanfaatkan bahan kehidupan yang ada bisa menjadi tangga menuju puncak kesuksesan. Dahlan Iskan dan ribuan orang sukses lainnya bisa sebagai bukti.

Saya sadar, tulisan ini amat singkat dan kental bau teori. Meski demikian, semoga tetap bisa menambah motivasi dalam menyikapi keterbatasan “bahan-bahan” yang kita miliki. Semoga. (*)

 

*) Pengusaha properti dan penulis novel

Marketing Analysis 2018