RENCANA MISKIN

 

Rencana Miskin

*Suwandono (mr.swand @yahoo. co. id )

“Mengapa orang Tionghoa tidak berminat menjadi pegawai negeri?” tanya seorang sahabat ketika kami kongkow di sebuah resto.

“Karena mereka tidak suka membuat rencana miskin!” jawab saya.

Kedua alis sahabat itu hampir menyatu karena menilai jawaban saya aneh. Obrolan santai kami pun berubah menjadi semacam forum diskusi. Menurutnya, tidak ada orang yang sengaja membuat rencana miskin dalam hidupnya. Pasti semua orang ingin membuat rencana hidup kaya.

Pengertian kaya dan miskin memang beragam. Ada pendapat yang menyebut bahwa kaya dan miskin hanya bermain di wilayah perasaan. Saat kita merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, pada saat itu kita telah menjadi orang kaya. Sebaliknya, meski memiliki uang banyak tetapi masih merasa kurang, maka kita tak ubahnya orang miskin.

Jika perasaan yang dipakai parameter, kaya dan miskin menjadi hal amat subjektif dan setiap orang memiliki tolok ukur masing-masing. Namun, saya akan memakai pendekatan “jumlah atau prosentase grafik penghasilan” sebagai parameter penilaian.

Ayah saya dapat dijadikan contoh orang yang telah membuat “rencana miskin” untuk hari tuanya. Ia mewakili ribuan orang lainnya yang tidak memiliki kekhawatiran terhadap masa depan, karena telah merasa “aman” dengan profesinya sebagai pegawai negeri. Mengapa disebut membuat rencana miskin? Karena setelah memasuki masa pensiun, jumlah penghasilan yang diterima menjadi jauh berkurang. Dengan kata lain, ayah saya merencanakan bekerja keras seumur hidup hanya untuk menjadi miskin di hari tua karena jumlah penghasilannya semakin menurun.

Semasa aktif menjadi pegawai negeri, sumber penghasilan ayah saya hanya dari gaji yang diberikan negara. Berarti tidak mungkin bisa kaya, karena nominal gaji pegawai negeri tidak besar. Hanya mencukupi kebutuhan pokok dan sesekali manabung. Tabungan itu pun langsung lenyap ketika ada kebutuhan mendadak karena anggota keluarga sakit atau kebutuhan lainnya.

Banyak rekan seperjuangan beliau yang akhirnya harus menjalani hari tua dalam kondisi miskin. Keadaan yang demikian, masih diperparah dengan menurunnya daya tahan tubuh karena digerogoti usia, antrian penyakit pun dipastikan memanjang, yang berarti pula memerlukan biaya amat besar jika menginginkan perawatan kesehatan terbaik. Menurut saya, keadaan yang demikian sama saja dengan menunggu kematian dengan cara amat menyedihkan.

Lantas, bagaimana caranya agar tidak terjebak dalam rencana miskin? jawaban gampangnya adalah harus membuat “rencana kaya”. Bagaimana caranya? dengan membuat rencana penghasilan lebih dari satu. Sumbernya bisa dari bisnis atau investasi yang menguntungkan.

Hambatan terbesar bagi orang yang berprofesi pegawai untuk menjalankan bisnis adalah keterbatasan waktu dan konsentrasi yang terbagi. Oleh karenanya harus menemukan bidang bisnis yang tak terlalu menyita waktu atau bisnis yang dapat dijalankan oleh orang lain/staff. Yang paling mudah dilakukan adalah menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung dan jika jumlahnya telah memadai lantas diinvestasikan pada hal produktif yang memiliki tingkat keamanan tinggi. Seiring berjalannya waktu, diharapkan investasi itu berkembang dan pada akhirnya dapat memberi passive income (penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja) yang cukup untuk memenuhi biaya hidup dan gaya hidup. Semakin tua seyogianya penghasilan yang diterima tidak menurun.

Sumber income lebih dari satu dan investasi produktif hanyalah instrumen dalam menyusun rencana kaya dan upaya menghindar dari jebakan rencana miskin. Apakah rencana itu dapat berjalan dengan baik atau tidak? Tentu banyak hal yang terkait dan saling mempengaruhi. Semua dikembalikan pada bagaimana cara masing-masing individu menjalankan rencananya serta bagaimana cara “merayu Tuhan” agar melimpahkan berkatnya. Namun, orang-orang yang tidak mempunyai rencana kaya hanya menjalani hidup dan bermimpi sewaktu-waktu akan menjadi kaya, besar kemungkinan mereka akan terjebak dalam kemiskinan.

Kita tentu sepakat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memberi jaminan kepastian tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, berbagai rencana dan upaya yang dilakukan seseorang akan sangat menentukan keadaan masa depannya. Saya sendiri lebih suka meniru kebanyakan orang Tionghoa yang menyusun rencana kaya. Bagaimana dengan Anda?(*)

*Pengusaha properti dan penulis novel.

 

Marketing Analysis 2018