Rahasia Segosoge Bisa jadi Makanan Hits

Rahasia Segosoge Bisa jadi Makanan Hits

Sufiyanto Arief.foto:arya wiraraja/enciety.co

Terinspirasi restoran cepat saji asal Jepang, kemudian membuat produk yang sekarang lagi hits dan laris manis. Begitulah yang dilakukan Sufiyanto Arief, owner Segosoge. 

Pria kelahiran Surabaya, November 1979 tersebut, mampu melambungkan produk unggulannya setelah beberapa kali mencoba peruntungan menjadi wirausaha. 

Tahun 2013, Arief sempat jualan sosis bakar. Pemasarannya menyasar sekolah dan kampus. Setelah tiga tahun, usahanya tak kelewat berkembang. Begitu-begitu saja. 

“Arief harus memutar otak karena yang jualan banyak. Saya harus bikin yang beda,” ujar dia dalam acara Pelatihan Digital Marketing Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Surabaya di Kaza City Mall, Sabtu (7/4/2019).

Dia lantas punya ide bikin makanan sejenis rice bowl dari bahan-bahan frozen food. Arief sengaja memilih bahan frozen food. Pasalnya, ia sangat paham seluk beluk frozen food lantaran pernah bekerja di PT Kelola Mina Laut, perusahaan perikanan multinasional yang bergerak di bidang manufacturing (food Industries), distribution, dan export. “Saya kerja di sana delapan tahun,” akunya.

“Lha, nama segosoge itu saya dapatkan maaf, saat di kamar kecil. Termasuk tagline-nya, sing tuku tak dongakno cepet soge (Yang beli saya doakan cepat kaya, red),” ungkap dia.  

Dari restoran cepat saji asal Jepang itu, Arief berpikir sederhana, bagaimana menggunakan prinsip ATM atau Amati, Tiru, Modifikasi. Sebuah prinsip bisnis yang sudah populer.

Waktu itu, Arif berpikir bagaimana bisa menjual makanan dengan kualitas rasa yang sama, isi yang sama, tapi harganya jauh lebih murah. “Ya itu saja yang saya fokuskan. Alhamdulillah, bisa laku,” ucap pria bertubuh subur ini, mengenang.    

Sufiyanto Arief membagi tips sukses di pelatihan Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda.foto:arya wiraraja/enciety.co

Gagap Teknologi

Menurut Sufiyanto Arief, memulai sebuah usaha jangan berpikir yang enak saja. Yang manis-manis saja. Karana merintis usaha butuh proses, kerja keras, dan istiqamah.

Dia lantas mengenang tiga tahun lalu. Saat awal-awal jualan Segosoge. Saat ikut acara bazar kuliner di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tiga tahun lalu.

“Rumah saya di daerah Kenjeran. Pas bawa barang dari Kenjeran ke Unesa, saya jatuh sampai sebelas kali. Di tengah jalan saya merenung, mungkin ini cobaan Tuhan. Seberapa kuat tekad saya. Saya bersyukur, dengan begitu mental usaha saya terbangun. Sekarang saya bisa bisa beli kendaraan R3 untuk angkut barang. Alhamdulillah barang saya tidak jatuh lagi,” tutur Arief, lantas tersenyum.

Mengikuti perkembangan zaman, Arief juga melakukan inovasi. Jualannya bukan hanya di bazar dan pameran, tapi juga di sosial media. Belakangan, dia telah menggandeng dua perusahaan layanan pesan antar supaya para pelanggannya dapat menikmati produknya tersebut.

“Dulu saya itu gagap teknologi. Tapi karena tuntutan, ya saya harus belajar. Prinsip saya begini, kalau saya tidak bisa lakukan, ya saya harus bayar orang yang bisa. Akhirnya, sambil belajar, saya sekarang punya admin untuk membantu pemasaran online,” terang Arief.

Bukan cuma itu saja. Arief juga melakukan brand awareness. Itu sebabnya ia juga membuat vlog di akun Youtube miliknya, mistersoge. Konten-konten video yang diproduksi mengulas seputar kuliner.

“Alhamdulillah, setelah saya coba iklankan, tiga video saya itu membuat banyak orang yang makin kenal Segosoge,” tegas Arief.

Arief mengaku rata-rata pendapatan sebulan tembus Rp 50 jutaan. “Tahun 2018 mencapai Rp 700 juta setahun. “Tahun 2019 ini, pernah Rp 63 juta dalam sebulan,” ucap dia.

Hingga kini, Arief belum punya gerai. Jualannya masih di rumah yang sekaligus menjadi bengkel produksi. “Di 2019 ini, saya punya target buka gerai. Mudah-mudahan bisa terwujud,” pungkas dia.(wh)