Queenzy Pet Care Menyasar Kelas Menengah

 

Queenzy Pet Care Menyasar Kelas Menengah

Tidak sedikit bisnis yang tumbuh berlatar hobi. Lantaran kecintaan, seberat dan sesulit apapun tantangan tetap mereka jalani dengan gembira. Hasilnya pun terkadang di luar perkiraan.

Itu pula yang dirasakan duo dokter hewan belia, Dina Desiani Guntaran dan Ayu Kusumawardhani. Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga itu memang baru menjalankan bisnis house call perawatan hewan peliharaan pet grooming. Namanya Queenzy Pet Care.

Sahabat sejoli angkatan 2008 itu mendirikan Queenzy atas dasar hobi bergumul dengan hewan. “Dari kecil kami memang suka dengan dunia hewan. Jadi, ya seneng aja ngejalaninya,” buka Ayu  sambil menyisir rambut Una, anjing ras pomeranian berusia sekitar satu tahun berwarna cokelat.

Hari itu, klien yang harus di-grooming Dian dan Ayu hanya satu. Biasanya dalam sehari, mereka bisa mengurus 3-4 anjing maupun kucing.

Namun, bermodal hobi saja tak cukup. Ayu dan Dina mengaku, mereka tak langsung membeli semua peralatan bisnis house call grooming ini seketika. Mereka menyicilnya sejak masih kuliah.

“Sebenarnya, kami punya mimpi bisa memiliki klinik hewan beserta pet shop-nya. Tapi yang bisa dijalani dulu ya grooming,” tutur Dian. Jika dihitung, butuh merogoh kocek lebih dari Rp 1 juta.

Promosi kepada sesama teman-teman kuliah menjadi cara yang cukup efektif sebagai langkah awal berwirausaha. Melalui akun media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Blackberry Messenger, mereka langsung kebanjiran order. Pasar yang dibidik jelas bukan sembarang konsumen. Mengusung konsep house call, Queenzy Pet Care menyasar segmen kelas menengah dan ke atas yang butuh menghemat waktu dalam merawat hewan peliharaannya.

“Klien kami rata-rata orang yang sibuk. Jadi pet-nya akan kami jemput untuk dirawat di rumah kami. Tapi kalau terpaksa karena rewel, bisa dirawat atau dimandikan di rumah klien,” terang Ayu.

Dalam dua bulan saja, Queenzy sudah mampu balik modal. Tarif sekali perawatan grooming standar seekor kucing berkisar Rp 40 ribu. Sementara untuk anjing, relatif lebih fleksibel. Sebab, sangat tergantung ukuran hewannya.

Queenzy-Pet-Care-3  Queenzy-Pet-Care-4

“Untuk anjing kecil kayak pompom atau Shih Tzu, Rp 50 ribu. Tapi kalau Golden Retriever, bisa sampai Rp 100 ribu. Kan ukurannya lebih besar,” urai Ayu.

Meskipun bisnis grooming menjanjikan dan booming, ternyata dua gadis berusia 23 tahun tersebut menyebut, grooming bukan target pencapaiannya. Sebagai dokter hewan, mereka ingin menjadi praktisi medis dunia binatang.

“Kalau paket grooming kan meliputi merapikan bulu, memotong kuku, potong bulu, memandikan, dan lain-lain. Hanya dari sisi estetis. Tetapi, kalau dari sisi medis, justru lebih luas lagi,” ujar Dina.

Ia mengungkapkan, bahwa tak sedikit kliennya yang masih perlu diedukasi dalam memelihara kesehatan hewan peliharaannya. Banyak hewan klien yang ketika dibawa ke markas sementara Queenzy di Pondok Tjandra Indah tersebut, dihinggapi kutu maupun jamur. Itu menunjukkan, si pemilik masih belum sepenuhnya memahami kebutuhan dasar merawat kesehatan kucing atau anjingnya.

“Nah dengan menjadi dokter hewan, kami bisa menjelaskan kepada klien supaya bisa melakukan langkah-langkah yang tepat,” tutur Dina.

Selama perjalanan Dina dan Ayu menjalankan Queenzy Pet Care, berbagai suka dan duka telah cukup banyak dialami. Dari 200-an ekor anjing dan kucing, klien tersulit adalah ketika salah satu kucing ternyata mengidap Feline Infectious Peritonitis (FIP). Walaupun belum pernah dituduh malapraktik, Dina dan Ayu tentu merasa sedih jika tak mampu menyelamatkan hewan yang mereka tangani. Begitu pula ketika mereka bisa membantu kesembuhan pasiennya.

“Ada rasa bangga dan senang. Karena, bisnis grooming ini sudah seperti hiburan buat kami,” tandas Ayu.(wh)