Program Usaha Mikro Surabaya jadi Rujukan National University of Singapore

Program Usaha Mikro Surabaya jadi Rujukan National University of Singapore

foto:teguh andoria/enciety

Pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda di Surabaya menjadi perhatian banyak kalangan. Yang terbaru, delegasi National University of Singapore (NUS) melakukan studi banding untuk memotret lebih dekat program yang diinisiasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tersebut.

Lima mahasiswa S-2 NUS yang menjadi delegasi Lee Kuan Yew School of Public Policy berkunjung ke Surabaya, Selasa (4/12/2018). Kelima mahasiswa tersebut, Jason Brown (United Kingdom), Julmar Carcedo (Philippines), Vipin Yadav (India), Nontakorn Vachiraprasith (Thailand) dan Andika Eka Satria (Indonesia). Mereka ditemui dua mentor Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda, Fatkhul Mudjib dan Agus Wahyudi.

Dalam keterangannya Andika Eka Satria mengatakan, pihaknya sangat tertarik dengan program pemberdayaan ekonomi berbasis komuntas ini. “Di Singapura tidak ada yang seperti ini. Di mana, ada komunitas pelaku usaha mikro yang memiliki jumlah anggota besar seperti di Surabaya,” tutur dia.

Andika yang mendapat beasiswa kuliah S2 di NUS itu, mengaku sulit mencari usaha-usaha mikro di Negeri Singa. Padahal, peluang pasar sangat besar. Kosumennya juga tidak kecil.

Selain itu, terang dia, mereka ingin mengetahui kunci keberhasilan dari program Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda. Sejak sejak dirintis tahun 2010, anggota yang bergabung sudah lebih 10 ribu dari awal pembentukan yang hanya 89 orang. Juga dengan pelatihan yang dilakukan periodik setiap Sabtu dan Minggu.

Lain halnya dengan Nontakorn Vachiraprasith. Dia mengaku surprise melihat produk-produk unggulan hasil kreasi pelaku usaha Surabaya. “Ini sangat menarik. Bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan fasilitas seperti ini,” katanya, yang memuji kualitas produk pelaku usaha Surabaya setelah mencicipinya.

Sementara Julmar Carcedo mempertanyakan pemasaran produk yang dilakukan sehingga pelaku usaha bisa eksis. “Apakah ini hanya dijual di Surabaya, atau juga di daerah lain,” ucap dia.

Agus Wahyudi menjelaskan, faktor terpenting dari kelangsungan program ini adalah prinsip bergotong royong. Di mana, semua pihak bekerja sama dalam membangun kekuatan ekonomi.

“Ada banyak stakeholder yang terlibat dalam kegiatan Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda,” terang dia.

Yudi lalu mengungkapkan soal pelaku usaha yang produknya sudah naik kelas. Mereka bisa memasarkan produknya di ritel modern, jaringan distribusi nasional, dan hotel berbintang.

“Kami melakukan proses kuratorial. Jika kualitas rasa oke, mereka bisa ikut program Tatarupa yang me-repackaging dan me-rebranding produk. Program ini melibatkan ratusan desainer muda. Sekarang, sudah 350 produk yang sudah di-make over,” jabarnya.

Fatkul Mujid menambahkan, keberpihakan Pemerintah Kota Surabaya sangat besar menyukseskan program ini. Seperti akses pemasaran, akses permodalan, legalitas dan perizinan usaha.

“Ngurus izin usahanya gratis. Bahkan, petugasnya datang ke tempat pelatihan langsung untuk membantu proses pengurusan perizinan,” tandas Mujib. (wh)

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini