Produksi Ikan Nasional Bisa Gantikan Daging Sapi

Produksi Ikan Nasional Bisa Gantikan Daging Sapi

Ketahanan pangan Indonesia harus berubah. Produksi ikan laut harus bisa menggantikan daging sapi. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo menyatakan bahwa produksi ikan bisa mendukung ketahanan pangan Indonesia.

Dia mengatakan pemenuhan kebutuhan ikan di Indonesia tidak bergantung pada impor sehingga negara ini telah mandiri dalam memenuhi kebutuhannya. “Tidak seperti daging yang bergantung impor dan menimbulkan masalah,” katanya.

Saat ini tingkat konsumsi ikan Indonesia sebanyak 33 kilogram/tahun per kapita, dan itu bisa dipenuhi dari produksi nasional. Produksi Indonesia pada 2012 sebesar 15,9 juta ton.

Sementara itu, tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia saat ini sekitar 2,5 kilogram/tahun per kapita. “Itu pun masih bergantung pada impor,” kata Sharif.

“Jadi kita tidak perlu lagi bergantung pada daging yang selama ini seolah menjadi patokan untuk ketahanan pangan,” kata Sharif saat membuka Pameran Nusantara 2013 di Kota Palu, Rabu.

Dalam mendukung ketahanan pangan nasional, Sharif meminta masyarakat untuk terus meningkatkan konsumsi karena saat ini tingkat konsumsi ikan Indonesia masih kalah jika dibanding dengan Malaysia atau Jepang.

“Jika itu direalisasikan maka akan membawa dampak perekonomian untuk dukung Indonesia menjadi negara maritim,” kata Sharif saat membuka Pameran Nusantara 2013 di Kota Palu, Rabu.

Sharif yang juga Ketua Harian Dewan Kelautan Indonesia mengemukakan faktor-faktor yang menjadi indikator keunggulan Indonesia, antara lain posisi strategis yang dilalui 40 persen lalu lintas perdagangan dunia, atau bisa diistilahkan dengan “Jalan Semanggi Dunia.

Selanjutnya adalah Indonesia memiliki sumber alam sangat kaya dengan didukung zona ekonomi ekslusif, zona tambahan dan zona teritorial.

Saat ini Indonesia juga memiliki sepuluh sektor ekonomi kelautan unggulan yakni perikanan tangkap, perikanan budi daya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, energi dan sumber daya mineral serta pariwisata bahari. Selanjutnya, perhubungan laut, industri dan jasa maritim, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, dan sumber daya kelautan nonkonvensional.(ant/bh)

Marketing Analysis 2018