Positioning Brand, Statement dan Tagline

Positioning Brand, Statement dan Tagline

Luhur Budijarso, narasumberMarketing Analysis Training di Hotel Santika Premiere, Surabaya, Kamis (11/10/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Masih banyak yang perlu dipelajari dalam meningkatkan kemampuan marketer. Satu di antaranya adalah memahami positioning brand, statement, dan tagline.

Hal iti diulas Luhur Budijarso, senior consultant Enciety Business Consult, dalam Marketing Analysis Training di Hotel Santika Premiere, Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Kamis (11/10/2018).

“Konsep ini adalah hal yang sangat penting dan strategis. Karenanya, perlu dibedakan antara positioning statement, tagline, dan brand. Ketiganya memang serupa, tapi tidak sama,” katanya.

Kata Luhur, positioning brand adalah cara efektif menempatkan brand sehingga tertanam di benak atau pikiran customer. Positioning statement, sebuah driver internal untuk menggerakkan brand menyelesaikan masalah terbesar yang dihadapi target audience.

Luhur lalu mencontohkan positioning brand perusahaan produk untuk remaja. Positioning statement-nya bagaimana cara mempromosikan produk untuk mengatasi masalah remaja.

“Seperti jerawat, maka positioning statement yang dapat kita ambil adalah produk perusahaan kita ini dapat mengatasi masalah tersebut, sehingga remaja dapat tampil percaya diri,” papar dia.

Sedangkan tagline, sambung Luhur, disampaikan lebih singkat dan sederhana namun jelas menggambarkan target dan positioning yang diinginkan perusahaan. Contoh tagline seperti ini: “Tumbuh itu ke atas, bukan ke samping”.

Menurut Luhur, perubahan tagline sangat dimungkinkan, namun perubahan brand dan statement tidak mudah. Sehingga, untuk menentukan kedua positioning itu wajib dipikirkan serius dan detail. Pasalnya, efek dari positioning yang diambil akan menentukan arah perusahaan dalam jangka panjang.

Positioning Brand, Statement dan Tagline
foto:arya wiraraja/enciety.co

“Ada satu brand shampoo ternama yang dulu telah menentukan positioning brand dan positioning statement untuk pasar eksklusif. Namun, karena perusahaan ingin mengembangkan diri masuk ke pasar ritel, positioning yang dibangun puluhan tahun akhirnya hancur. Ini berimbas pada makin menurunnya penjualan produk,” terang dia.

Lewat contoh itu, Luhur ingin menggugah marketer agar bijak dalam menentukan positioning statement dan brand bagi perusahaan.

“Otak manusia sangat menyukai simplicity, hal-hal yang sederhana. Untuk membangun positioning bukan hal mudah. Butuh kerja keras, waktu, dan investasi besar. Jadi, untuk menentukannya, pastikan dengan bijak,” ujarnya. (wh)

Berikan komentar disini