Peta Industri Tekstil di Indonesia Berubah, Begini Analisis Kresnayana Yahya

Peta Industri Tekstil di Indonesia Berubah, Begini Analisis Kresnayana Yahya

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jatim Sherlina Kawilarang yang juga merupakan anggota Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (13/4/2018).foto:maman/ebc

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya menyebutkan, ada lima industri yang memiliki posisi yang strategis dan bakal mengalami perkembangan pesat di masa depan. Kelima industri tersebut adalah makanan dan minuman (food & beverage), tekstil dan produk hasil tekstil, otomotif, elektronik, dan chemical dengan produk obat-obatan.

“Kelima industri tersebut ke depan bakal didorong untuk ekspor dan menjadi andalan bagi perkembangan dunia industri Tanah Air,” ungkap Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (13/4/2018).

Acara tersebut juga dihadiri Sherlina Kawilarang, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jatim yang juga merupakan anggota Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas).

Jika dibahas secara detail, terang dia, perkembangan industri menjadi salah satu faktor yang pemicu peningkatan upah minimum regional di Jawa Timur. Menurut Kresnayana, sebelum tahun 2000, upah minimum di Jawa Timur nilainya di bawah Rp 1 juta. Dalam jangka waktu 15-17 tahun upah minimum di Jawa Timur naik hingga mencapai Rp 3,5 juta.

“Dulu, industri tekstil terbesar di Indonesia berada di daerah Bandung. Hal itu tidak lepas dari letak geografis Bandung yang memiliki banyak sungai dan tenaga kerja yang berlimpah. Namun sekarang, peta industri tekstil mulai berubah. Industri tekstil mulai pindah dari daerah-daerah yang memiliki nilai upah minimum yang tinggi,” ungkap Kresnayana.

Menurut pakar statitistik ini, keadaan ini tidak dapat dibandingkan dengan keadaan dulu. Di mana industri tekstil yang menggunakan tenaga kerja manusia. Sekarang industri tekstil mulai berkembang dengan proses produksi yang menggunakan tenaga mesin.

Keadaan ini, menurut Kresnayana, menghadirkan ketimpangan. Karena industri tekstil Indonesia masih membutuhkan banyak tenaga kerja. Akhirnya, saat ini industri tekstil banyak pindah ke daerah Jawa Tengah karena upah minimum masih berkisar antara Rp 1,2 juta sampai Rp 2,2 juta.

“Industri tekstil di Bandung kini pindah ke daerah Jawa Tengah. Lalu, industri tekstil yang ada di pusat Jawa Timur, kini mulai pindah ke daerah-daerah yang masih memiliki nilai upah minimum lebih rendah, seperti Nganjuk,” terangnya.

Ke depan, sambung Kresnayana, industri tekstil dan industri lain tidak bisa lagi berpatokan pada upah minimum kabupaten/kota. “Karena, ada sistem upah minimum sektoral yang juga wajib dipenuhi. Karena investment yang telah terjadi dan kemampuan atau skill tenaga kerja juga wajib diperhitungkan,” tandas Kresnayana.

Dia menambahkan, peta kompetisi industri tekstil juga berubah. Jika dulu kiblat industri tekstil adalah negara-negara Eropa, sekarang industri tekstil makin tumbuh di negara-negara seperti China, India, Bangladesh, Pakistan dan negara-negara di Amerika Latin.

“Hal itu menjadi pertanda jika saat ini negara-negara besar di seluruh dunia sangat ingin memiliki industri tekstil sendiri. Alasannya untuk mencukupi kebutuhan sandang dari negaranya masing-masing,” papar Kresnayana. (wh)