Pesta Demokrasi Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Pesta Demokrasi Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Kreanayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Tahun 2019, banyak tantangan perekonomian yang akan dihadapi. Terlebih momentumnya bersamaan pesta demokrasi lima tahunan, yaitu pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).

“Sudah dapat dipastikan di awal tahun 2019, kita dihadapkan dengan kontestasi politik nasional, yaitu pemilihan presiden RI. Kondisi ini dapat dipastikan bakal mempengaruhi perekonomian kita. Kondisi ini bakal sangat mempengaruhi daya beli masyarakat,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (4/1/2019).

Kata dia, pemerintahan saat ini telah mempersiapkan beberapa langkah mengatasi tantangan tersebut. Salah satunya dengan menaikkan gaji bulanan bagi pegawai.

Kebijakan menaikkan gaji dari Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK) sekitar 5-8 persen adalah cukup efektif . Karena, sesuai data tahun 2017 dan 2018, salah satu ujung tombak perekonomian Indonesia adalah jumlah konsumsi masyarakat yang makin tinggi.

“Untuk mengantisipasi gejolak perekonomian di tahun politik 2019 ini, kebijakan itu dirasa sudah tepat,” tegas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Kresnayana juga menjelaskan beberapa efek dari makin meningkatnya UMK 2019. Pertama, peningkatan perekonomian dari makin meningkatnya jumlah konsumsi masyarakat. Kedua, ada dana investasi yang disiapkan masyarakat.

“Di akhir 2018, kami mencatat pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran untuk non makanan masyarakat tidak tinggi lagi. Masyarakat mulai memikirkan dana saving atau dana investasi,” tandas staf pengajar statistika ITS itu. (wh)