Pertumbuhan Mal di Surabaya Capai 8,6 Persen pada 2019

Pertumbuhan Mal di Surabaya Capai 8,6 Persen pada 2019

foto:arya wiraraja/enciety.co

Selaian Jakarta, perkembangan pusat perbelanjaan di Surabaya tergolong pesat. Pertumbuhan pasokan kumulatif pusat perbelanjaan atau mal di Surabaya diprediksi mencapai angka 8,6 persen pada 2019. Sedangkan pada 2020, angkanya bakal meningkat lagi 2,9 persen.

Hal itu disampaikan Feri Salanto, senior associate director research Colliers International, dalam Press Luncheon Laporan Property Market di Four Points Hotel Sheraton, Rabu (30/1/2019).

Angka perkembangan ini, terang Feri menjadi acuan para pelaku usaha jika saat ini pertumbuhan properti pusat perbelanjaan tidak dipengaruhi oleh makin tingginya pola penjualan via dunia digital.

Kata dia, pola belanja di Surabaya sangat berbeda dengan di Amerika. Saat ini di Amerika banyak orang mengubah kebiasaan belanja yang awalnya di mal berubah menjadi belanja online.

“Perubahan ini berbeda di Surabaya, karena di Surabaya, mal menjadi satu bagian dari destinasi wisata alternatif. Kalau di Amerika, mal itu bukan tempat orang belanja, makan, dan mencari hiburan,” tegas Feri.

Untuk di Jakarta, imbuh Feri, ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang mulai beralih dari belanja ke mal ke belanja online. Pasalnya, pemerintah daerah di Jakarta mulai menerapkan moratorium retail.

“Pemberlakuan peraturan itu salah satunya dipicu anggapan jika mal-mal di Jakarta menjadi salah satu penyebab kemacetan. Itu sebabnya ada peraturan semacam itu,” papar Feri.

Feri juga menyoroti budaya belanja warga Kota Surabaya yang sangat berbeda dengan warga Jakarta. Menurut Feri, di Surabaya banyak masyarakatnya yang merupakan impulse buyer. “Mereka ini adalah masyarakat yang secara spontan membeli produk yang ditawarkan di mal. Jadi mereka ini sebelumnya tidak ada rencana membeli, setelah jalan-jalan rekreasi akhirnya mereka beli produk di mal,” ungkap dia.

Sampai saat ini, kata Feri angka tingkat hunian mal di Surabaya masih cukup tinggi. Angkanya di atas 75 persen.  Untuk harga sewa diperkirakan tetap tumbuh hingga 2021. Mal kelas menengah akan mempengaruhi rata-rata tarif sewa di Surabaya. Berdasarkan lokasi, mal yang terkenal di Surabaya menawarkan harga sewa sama dengan mal di Jakarta di kelas yang sama. Sedangkan beberapa mal lainnya lebih memilih menaikkan biaya pemeliharaan dibanding harga sewa. “Tingkat kekosongan properti pusat belanja di Surabaya untuk tahun 2019 sampai dengan 22 persen. Lantas, di tahun 2021 diprediksi angkanya mencapai 30 persen. Kalau kinerjanya, di sisi tingkat hunian, tingkat sewa dan service charge hampir sama dengan Jakarta,” tegasnya. (wh)

Marketing Analysis 2018