Perempuan Harus Manfaatkan Dunia Digital untuk Usaha

Perempuan Harus Manfaatkan Dunia Digital untuk Usaha

Nurul Hidayati (owner Prima Crispy), Susilaningsih (owner sambel DD Satoe), dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (21/4/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Sebagian besar perempuan Indonesia kini sudah mulai sadar akan perannya bagi keluarga dan masyarakat. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya perempuan yang memutuskan untuk berkarir atau bekerja selain menjadi ibu rumah tangga.

Sesuai dengan perkembangan zaman yang makin modern, para perempuan Indonesia kini telah mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dalam hal ini dengan dapat memanfaatkan dunia digital untuk dapat mendatangkan pemasukan bagi keluarga.

Seperti yang telah dilakukan Pahlawan Ekonomi, gerakan pemberdayaan ekonomi keluarga yang digagas Pemerintah Kota Surabaya. Sejak awal digagas, konsep yang diusung adalah dengan mengaktifkan mesin kedua ekonomi keluarga.

“Di mana para ibu rumah tangga agar dapat menghasilkan namun tidak harus meninggalkan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dirumah,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue bertajuk “Peran Perempuan Menembus Batas” di Radio Suara Surabaya, Jumat (21/4/2017).

Menurut Kresnayana, upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya tersebut bukan tidak mendatangkan hasil. Setelah digagas 2010, kini telah mendatangkan hasil positif bagi sebagian besar kaum perempuan Surabaya.

“Di antaranya dua orang perempuan yang saat ini telah hadir. Sebagai pelaku usaha yang sukses, mereka dapat berperan ganda. Selain sebagai seorang ibu rumah tangga, mereka juga dapat menjadi seorang pelaku usaha dan mengangkat perekonomian keluarga,” kupas Kresnayana.

Nurul Hidayati, owner Prima Crispy, menjelaskan jika dirinya sangat bersyukur dapat melakoni profesi ganda dan mampu berperan bagi kehidupan orang-orang di sekelilingnya.

“Saya sangat bersyukur sekali, selain menjadi seorang ibu rumah tangga, saat ini saya juga dapat berguna bagi orang-orang yang ada di sekitar saya dengan menjadi seorang pelaku usaha,” kata dia.

Nurul menerangkan, berkat usaha olahan hasil laut berupa kerupuk tripang, ia kini dapat mengangkat derajat ekonomi para nelayan yang ada di Pantai Kenjeran Surabaya. Rata-rata untuk satu nelayan saya dapat membeli hasil tangkapan tripang sekitar 100 kilogram.

“Untuk satu kilogramnya saya harus bayar Rp 2,7 ribu sampai Rp 4 ribu. Jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya, para nelayan tidak pernah melirik tripang karena dianggap hama,” kupas dia.

Nurul menuturkan, dari hasil tangkapan tripang tersebut, para nelayan Kenjeran dapat memperoleh penghasilan lebih selain menangkap ikan.

“Saya tidak menyangka, secara tidak langsung apa yang saya lakukan ini juga membantu para nelayan untuk mendapatkan penghasilan guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Bangga rasanya,” ucap Nurul, sumringah.

Begitupun dengan Susilaningsih, owner sambel Dede Satoe. Berkat pilihannya menjadi pelaku usaha, ia kini dapat membantu para tetangga dekatnya memperoleh penghasilan.

“Saya sangat beryukur sekali. Dengan kapasitas produksi yang setiap hari angkanya mencai 120 kilogram cabai, saya dapat merekrut 10 orang pegawai tetap,” katanya.

Susi juga menegaskan berkat kemajuan teknologi, ia tidak harus menawarkan produk saya dari rumah ke rumah. Kini dengan menggunakan Facebook Fanpage dan sosial media lainnya ia telah mampu menawarkan produk saya dari rumah.

“Jadi, saya dapat melakoni pekerjaan ganda menjadi seorang ibu rumah tangga dan menjadi pelaku usaha,” kupas dia.

Kata Susi, dengan menjadi pelaku usaha dan ibu rumah tangga, ia merasa telah mampu melanjutkan cita-cita yang telah diwariskan oleh Pahlawan Perempuan RA. Kartini.

“Dengan menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir. Saya merasa telah menjadi perempuan seutuhnya,” ujar Susi. (wh)