Perekenomian Surabaya Melejit, PDRB Capai Rp 600 Triliun

Perekenomian Surabaya Melejit, PDRB Capai Rp 600 Triliun

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana (kanan) dan Kepala Bapepko Surabaya Agus Agus Imam Sonhaji di acara Perspective Dialogue Sura Surabaya, Jumat (5/1/2018). foto:maman/enciety

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya dalam satu tahun mencapai Rp 600 triliun. Angka tersebut adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan pekonomian yang ada di Surabaya dalam satu tahun.

“Dengan jumlah inflasi yang hanya sekitar 3 persen menjadi sebuah pertanda jika angka-angka tersebut memandu kita, bahwa saat ini pertumbuhan perekonomian Kota Surabaya sangat meningkat,” ulas Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (5/1/2018).

Kata Kresnayana, perkembangan perekonomian Surabaya yang pesat tersebut tidak lepas dari pembangunan infrastruktur. Dia lantas mencontohkan, dari sekian meter jalan baru yang telah dibangun di Kota Pahlawan, menjadi pemicu tingginya pertumbuhan usaha.

Jika melihat anggaran belanja daerah Kota Surabaya pada 2010 yang jumlahnya sekitar Rp 4 triliun lebih,  pada 2017 akhir angkanya meningkat Rp 9,1 triliun. Dengan kata lain, return of investment atau perhitungan untung dari nilai investasi, saban tahun di Kota Surabaya ternyata sangat tinggi.

“Meningkatnya anggaran belanja daerah tersebut juga tak lepas dari peran masyarakat Surabaya yang makin sadar akan peraturan. Dapat dikatakan, dana belanja daerah tersebut adalah dana sumbangan dari masyarakat yang didapat dari pajak dan lain sebagainya,” cetus pakar statistik ITS tersebut.

Kresnayana juga menjelaskan, jika infrastruktur yang dibutuhkan Kota Surabaya ke depan adalah fasilitas umum penunjang kehidupan, seperti fasilitas olahraga, kesenian dan lain sebagainya.

“Namun, fasilitas yang paling dibutuhkan ke depan adalah infratruktur transportasi massal. Dengan memiliki alat transformasi massal yang aman dan nyaman, kita dapat mengurangi kepadatan lalu lintas Kota hingga mencapai 40 persen ,” ungkapnya.

Dalam kesempatan sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Imam Sonhaji menjelaskan, untuk dapat membangun kota agar lebih maju dan berkembang, pola prilaku masyarakat juga harus diubah.

“Masyarakat kota harus lebih disiplin, teratur dan taat terhadap peraturan. Selain itu rasa perduli terhadap lingkungan juga sangat dibutuhkan,” tegas dia.

Kata dia, Pemerintah Kota Surabaya di bawah ini kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini memiliki visi kemandirian ekonomi lokal dengan bingkai penguatan sistem berbasis Pancasila. Kota Surabaya yang saat ini ditopang oleh dua sayap yang dikenal dengan membangun dan mengembangkan.

“Dalam konsep membangun, kita mengajak masyarakat mengembangkan kota ini dari bawah, atau dari rakyatnya. Sedangkan dalam konsep membangun, sebagai pemerintah, sudah selayaknya kita memberikan upaya membangun kota ini dari atas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah kemudahan perizinan dan lain sebagainya,” ulas dia.

Selain itu, imbuh Agus, sektor-sektor yang bakal menjadi konsentrasi pembangunan dari Kota Surabaya ini di antaranya industri kreatif, pariwisata dan lain sebagainya. Sedangkan untuk sektor infrastruktur, Surabaya telah membuat rancangan perkembangan infrastruktur hingga tahun 2021.

“Kami ingin pembangunan dalam bentuk infrastruktur yang dilakukan kota ini dapat dipadukan dengan pembangunan di bidang pariwisata dan industri kreatif. Contohnya, perkembangan kawasan eks lokalisasi Dolly. Dengan begitu, kita dapat mengubah kawasan yang dulunya suram kini menjadi kawasan pariwisata yang dipadu dengan sektor industri kreatif,”paparnya. (wh)