Perbaiki Produk, Ini Kata Pakar Ilmu dan Teknologi Pangan

Perbaiki Produk, Ini Kata Pakar Ilmu dan Teknologi Pangan

Prof Dr Teti Estiasih dalam seminar Good Manufacturing Process di Kaza City Mall, Sabtu (27/10/2018). foto: arya wiraraja/enciety.co

Pengawetan tidak identik dengan mencampurkan zat-zat berbahaya dalam makanan agar produk bisa bertahan lama. Hal itu ditegaskanProf Dr Teti Estiasih, pakar ilmu dan teknologi pangan, dalam seminar Good Manufacturing Process Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda di Kaza City Mall, Sabtu (27/10/2018).

Menurut dia, ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi agar produk memiliki usia layak konsumsi lebih lama. Di antaranya dengan mempraktikkan proses produksi yang sesuai standar. Proses ini dikenal dengan Good Manufacturing Practices (GMP).

Tidak hanya memperkenalkan konsep GMP saja, Teti juga memperkenalkan beberapa prinsip sanitasi proses produksi, penerapan prinsip pengawetan pangan, dan penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang sesuai aturan dan nilai kesehatan.

“Seluruh proses produksi sangat menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Contohnya sanitasi. Harus dibedakan kamar mandi dengan dapur. Keadaan dapur harus steril, atau jauh dari kamar mandi. Jika letaknya berdekatan harus diberi sekat agar udara di dalam dapur tidak tercemar,” kata Teti. (Materi lengkap bisa di-download pada link di bawah ini, red)

Download Materi-1 KLIK DISINI

Download Materi-2 KLIK DISINI

Download Materi-3 KLIK DISINI

Teti lalu memaparkan proses produksi pengolahan bahan pangan sesuai standar operasional prosedural (SOP) dalam industri rumahan. Di mana pelaku usaha harus memastikan kebersihan peralatan yang dipakai.

“Contohnya sarung tangan, penutup kepala, dan masker. Ketiga peralatan itu wajib digunakan,” tandas dosen Universitas Brawijaya itu.

Seperti masker, sebut Teti, secara tidak sadar pada saat proses produksi sering berbicara. Ini berarti risiko ada bakteri yang tercampur sangat tinggi .  Pun dengan penutup kepala. Itu dibutuhkan agar rambut tidak jatuh dalam adonan. Jika adonan tercampur rambut, kualitasnya bakal menurun.

“Di tangan kita ada berbagai bakteri meskipun kita sudah mencuci tangan. Jika tidak pakai sarung tangan, bakteri akan ikut terbawa,” ujar dia.

Perbaiki Produk, Ini Kata Pakar Ilmu dan Teknologi Pangan
Prof Dr Teti Estiasih, foto: arya wiraraja/enciety.co

Pada kesempatan itu, Teti menunjukkan beberapa foto per4bandingan proses produksi tahu di Indonesia dengan di China dan Jepang. Kata dia, kalau di China dan Jepang, mereka membuat tahu dengan cara yang higienis. Semua kebersihan peralatan benar-benar diperhatikan.

“Kalau di Indonesia, cara membuat tahu lebih asal-asalan. Bahkan orang-orangnya tidak pakai baju. Ini sangat berbeda di Jepang dan China, mereka menggunakan peralatan yang sudah disterilkan. Hasilnya, tahu di sana jauh lebih berkualitas jika dibanding di Indonesia,” cetus perempuan berjilbab ini.

Lewat seminar tersebut, Teti ingin menggugah para pelaku usaha Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda lebih memperhatikan proses produksi.

“Intinya, kita jangan hanya berpikir sudah bisa membuat produk dan laku dijual. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana produk bisa lebih berkualitas dan higienis,” pungkasnya. (wh)

Perbaiki Produk, Ini Kata Pakar Ilmu dan Teknologi Pangan

foto: arya wiraraja/enciety.co

Marketing Analysis 2018