Penjualan Produk Turun, Cermati Siklus Bisnis Ini

Penjualan Produk Turun, Cermati Siklus Bisnis Ini

evaluasi pelatihan culinary business & home industry di Kaza City Mall.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pelaku usaha harus mencermati siklus bisnis. Di mana produk-produk sedang laris bisa mengalami penurunan. Biasanya setelah 3-5 tahun pascaproduk tersebut mencapai puncak popularitas. Penjualan produk turun karena sensasi pelanggan menikmatinya sudah berkurang.

“Contohnya Coca-Cola. Siapa tidak tahu minuman itu. Sensasinya turun karena banyak orang hapal rasanya. Namun, produk itu sampai hari ini masih laku karena punya penikmat setia,” ujar Don Rozano, advisor Pahlawan Ekonomi Surabaya, dalam acara evaluasi pelatihan culinary business & home industry di Kaza City Mall, Minggu (6/1/2019).

Contoh lain, sebut Don, restoran cepat saji McDonalds. Pembeli setianya mau membeli produk-produknyalantaran restoran itu selalu mengganti menu yang setiap bulan. Contohnya menu burger balado, burger rendang, dan lain sebagainya. Di restoran itu menu utama yang tidak diganti. Seperti ayam goreng, kentang, dan lain sebagainya.

“Nah, cara ini harusnya bisa dicontoh. Yang selama ini kita maksud berinovasi ya seperti itu. Buat banyak menu baru dan tawarkan. Tapi jangan sampai meninggalkan produk original atau produk utamanya,” papar dia.

Langkah ini, terang Don, perlu dilakukan jika ingin usaha terus jalan. Karena di tahun 2019, tantangan ekonomi makin sulit. “Namun kita harus hadapi dengan optimisme tinggi,” cetusnya.

Menurut Don, inovasi produk dilakukan untuk memperluas pasar. Namun untuk mempertahankan pasar yang ada jangan sampai meninggalkan produk lama. Karena produk original punya pasar setia yang harus diperhitungkan.

“Kalau tidak berinovasi, orang pasti bosan. Saya sudah beberapa kali bilang, contohnya Mas Denil (Dedi Kurniawan, owner Denil Pudding Surabaya). Saya peringatkan, kalau produk kopi jelly Anda ini bakal menurun. Tapi jangan khawatir, lakukan inovasi produk. Tarik pembeli baru dari pasar potensial, yaitu anak-anak muda,” papar Don.

Berbagai ilustrasi tersebut, sambung dia, wajib dipertimbangkan. Seperti halnya harus mempertahankan rasa lokal yang tidak ada pada produk-produk luar negeri.

“Kita bisa meniru produk Chatime. Jenisnya sama dengan kopi jelly. Tapi, poin pembedanya ada sensasi lokali,” papar dia. (wh)

Marketing Analysis 2018