Pendidikan Berbasis Homeschooling Masih Dibutuhkan

Pendidikan Berbasis Homeschooling Masih Dibutuhkan

Muhammad Supriyadi (peserta PKBM PGRI Mandiri Homeschooling Surabaya), Ahmad Yani (peserta PKBM Homeschooling Tunas Harapan Surabaya), Rita Saidah (peserta PKBM Homeschooling Tunas Harapan Surabaya) dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/5/2018). foto:arya wiraraja/enciety.co

Arif, tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Harapan Surabaya, menjelaskan sejak mulai dibuka pada tahun 2006, pihaknya memiliki ribuan peserta didik yang setara dengan pendidikan formal tingkat SD, SMP, dan SMA. Pola pendidikannya berbasis homeschooling.

“Kebanyakan peserta didik yang dia tangani selama ini lebih banyak yang setara dengan pendidikan SMP dan SMA,” katanya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/5/2018).

Kata Arif, ada beberapa alasan yang membuat para siswa tersebut memilih belajar di PKBM. Di antaranya kesulitan biaya yang akhirnya membuat para siswa putus sekolah dan ingin memperbaiki masa lalu yang suram.

Di PKBM, kata dia, kurikulum yang diajarkan lebih mengarah peserta didik kepada pendidikan keterampilan. Hal ini dikarenakan banyak dari peserta didik yang berusia lebih dari 25 tahun.

“Sedangkan di luar sana, perusahaan banyak yang mencari mereka yang baru lulus. Untuk itu, setelah lulus kami ingin para peserta didik dapat siap dan mandiri menghadapi tantangan di dunia kerja,” terang Arif.

Menurut Arief, pola pendidikan di PKBM hampir sama dengan pendidikan formal pada umumnya, yaitu 3 tahun untuk pendidikan setara SMP dan 3 tahun untuk pendidikan setara SMA. Pendidikan yang dikembangkan di PKBM sesuai dengan passion. Karena, jika sesuai passion, para peserta didik dapat jauh lebih berkembang.

“Pola pendidikan ini kami rasa cukup efektif. Hal itu bisa dilihat dari para lulusan yang ada sekarang. Bahkan, setelah lulus, tidak sedikit dari para peserta didik yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi,” tegas Arif.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya menambahkan, di zaman ini pola-pola pendidikan yang dikembangkan PKBM dan pendidikan berbasis homeschooling ini sangat dibutuhkan.

“Yang menjadi nilai tambah dari konsep pendidikan ini adalah waktu belajar yang fleksibel. Sehingga para peserta didik tidak terbebani tugas dan jam belajar,” tegas pakar statistik ITS Surabaya ini.

Selain lebih mengedepankan materi praktik atau vokasi, sambung Kresnayana, pola belajar dengan konsep homeschooling juga memiliki kelebihan. Yaitu, pola pendidikan konseling kepada para anak didik.

“Dengan pola pendidikan teori dan praktik yang didukung dengan pola pendidikan konseling, ke depan jangan heran jika lulusan-lulusan dari PKMB dan homeschooling ini lebih matang dan mandiri,” kupas dia. (wh)