Pendapatan Gudang Garam Tumbuh 11,2 Persen

Pendapatan Gudang Garam Tumbuh 11,2 Persen

Director PT Gudang Garam Tbk Istata T Siddharta, Samantha Dermawan, dan Director & Corporate Secretary PT Gudang Garam Tbk Heru Budiman dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2016 di Grand City Mall Convention Surabaya, Kamis (18/8/2016). Foto:arya wiraraja/enciety.co

PT Gudang Garam juga mengalami penurunan dalam hal volume penjualan sekitar dua persen. Meskipun demikian, perusahaan melaporkan pertumbuhan penjualan dan pendapatan usaha sebesar 11,2 persen.

“Selain itu, kami juga mencatat peningkatan margin laba bagi para pemegang saham. Perlu diketahui, pada Rapat Umum Pemegang Saham yang diadakan pada tahun 2016 lalu, kami sepakat pembagian deviden sebesar Rp 2.600 per sahan,” ungkap Istata T Siddharta Director PT Gudang Garam Tbk dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2016 di Grand City Mall Convention Surabaya, Kamis (18/8/2016).

Ia mengimbuhkan, berdasar laporan keuangan konsolidasi belum di audit untuk periode 6 bulan pertama 30 Juni 2016, penjualan dan pendapatan usaha perusahaan meningkat 11,2 persen atau Rp 37,0 triliun jika dibanding pada tahun sebelumnya. “Jumlah penghasilan konfrehensif untuk tengah tahun pertama tahun 2016 meningkat 19,2 persen menjadi Rp 2,9 triliun,” urainya.

Sementara itu, Heru Budiman, Director & Corporate Secretary PT Gudang Garam Tbk mengungkapkan, jika volume total keseluruhan penjualan perusahaan turun sekitar 2 persen untuk 6 bulan pertama 2016. Volume penjualan SKM full flavor ada sekitar 77 persen dari total volume penjualan perusahaan atau sekitar 2,4 persen atau sekitar 28,9 miliyar batang.

“Di kategori SKM rendah tar dan nikotin (SKM LTN) volume penjualan turun sebesar 1,6 persen menjadi 4,6 miliyar batang. Untuk SKT (Sigaret kretek tangan) meningkat sebesar 1,9 persen menjadi 4,2 miliyar batang. Sementara itu, margin laba bruto meningkat dari 20,7 persen menjadi 21,7 persen,” terangnya.

Perlu diketahui, margin laba perusahaan berhasil bertahan pada level 12 persen. Beban bunga yang lebih rendah seiring dengan penurunan suku bunga pinjaman secara bertahap dinilai mampu mempertahankan jumlah penghasilan komprehensif.

“Menurut data yang kami rangkum, total aset perusahaan mengalami kenaikan 7,1 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2015 yang lalu dengan menjadi Rp 63,5 triliun. Hal itu disebabkan oleh peningkatan aset secara piutang dan persediaan yang lebih tinggi seiring dengan aktivitas usaha,” tutur dia. (wh)

Marketing Analysis 2018