Pemenang Jasmani dan Ruhani

Pemenang Jasmani dan Ruhani

*) Suwandono

“Pak Swan, mengapa ada orang yang kelakuannya benar-benar bejat tapi kaya raya hingga akhir hayatnya? Sebaliknya, ada orang sangat baik serta taat pada Tuhan tetap melarat meski sudah bekerja keras.”

Itulah salah satu tanya yang mencuat ketika saya menjadi pembicara di suatu dalam seminar kewirausahaan. Saya terperangah dengan pertanyaan itu, karena sadar jawabannya tidak mudah. Tak cukup hanya ditinjau dari perspektif entrepreneurship, melainkan bersinggungan dengan wilayah teologi.

Sebagai orang awam teologi dan dangkal pemahaman agama, saya tentu gelagapan. Keringat pun berebut menyembul dari permukaan kulit. Sempat tergoda untuk tidak menjawab pertanyaan itu karena takut salah. Namun, ekspresi wajah peserta seminar menyudutkan saya untuk tetap menjawabnya. Akhirnya, saya putuskan menjawab.  Kendati dengan referensi amat terbatas. Tak lupa saya berlindung dengan kata maaf bila jawaban saya ternyata kurang tepat.

Saya mengawali jawaban dengan membuat pemisahan antara kebutuhan jasmani dan ruhani. Jasmani membutuhkan makan, minum, obat, duit, rumah, dan warna warni kekayaan lainnya. Sedangkan ruhani butuh ketenangan, kedamaian, cinta kasih, jaminan keselamatan di akhirat, dan sejenisnya. Amat tegas perbedaan antara dua jenis kebutuhan itu. Kaya raya duniawi seperti yang disebut oleh penanya itu jelas-jelas hanya menunjukkan sukses pemenuhan kebutuhan jasmani.

Bila kebutuhannya terpisah, maka tolok ukur kesuksesannya juga berbeda. Ada pemenang kebutuhan jasmani, ada pula pemenang kebutuhan ruhani. Orang-orang yang menang secara jasmani akan hidup berkecukupan atau kaya. Pendek kata, hidupnya di dunia benar-benar sukses. Sebaliknya, golongan yang kalah hidup penuh keterbatasan.

Orang-orang yang batinnya tenang, penuh kebijaksanaan hidup, berlimpah damai dan cinta kasih, serta yakin akan terselamatkan hidupnya di kehidupan abadi, bisa disebut sebagai pemenang ruhani. Ayunan langkah para pemenang ruhani selalu dalam koridor Illahi, tarikan napasnya berisi penyerahan diri pada Tuhan sesuai dengan tuntunan agama atau keyakinan spiritualitas yang dianutnya.

Bila ada orang yang perilakunya bejat, bisa hidup kaya raya seperti yang dimaksud peserta seminar itu, berarti mereka hanyalah pemenang jasmani. Namun, kalah secara ruhani. Demikian pula sebaliknya, ada pemenang ruhani yang terpuruk di arena kehidupan jasmaninya.

Mengapa demikian? Untuk menjawabnya, saya membuat pengelompokkan berkat/rezeki/berkah. Ada yang disebut berkat umum, yakni rezeki yang disediakan Tuhan untuk semua manusia. Sinar matahari pagi dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bisa disebut sebagai berkat umum.

Dalam konteks itu, semua manusia punya kesempatan sama untuk meraihnya. Semua berlomba untuk meraih rezeki. Orang-orang yang berserah diri pada Tuhan pun harus bersaing dengan yang gemar menantang Tuhan. Siapa yang bekerja keras dan cerdas, serta mampu memanfaatkan kesempatan yang ada, maka besar peluangnya untuk mendulang berkah umum ini.

Bagaimana dengan kasus orang yang ikhtiarnya hanya biasa-biasa saja, tak perlu membanting tulang dan memeras otak, justru bisa mendapat kekayaan luar biasa? Saya menyebutnya sebagai golongan orang yang memperoleh berkat/berkah khusus. Fenomena ini tetap bisa diurai dengan logika sehat, akan tetapi bisa pula dimasukkan dalam wilayah hak prerogative Tuhan. Saya tidak terlalu tertarik untuk membahasnya. Juga tidak iri dengan fenomena itu. Dalam konteks motivasi, saya lebih menaruh perhatian pada upaya-upaya untuk bisa meraih berkat umum.

Bagaimana dengan para pemenang ruhani yang hidupnya pas-pasan? Saya tetap yakin bahwa Tuhan menjamin hidup mereka. Minimal, takkan kelaparan dan selalu ada jalan keluar ketika menghadapi terpaan persoalan hidup. Para pemenang ruhani bisa dipastikan hidup berkecukupan hati. Artinya, hidup bahagia, merasa cukup, dan diselimuti rasa syukur. Mereka berhasil membuka pintu hati terhadap apa pun yang terjadi. Mereka sadar tidak bisa mengendalikan hidup, tapi selalu bisa berdamai dengannya. Meski menurut pandangan umum hidupnya serba kekurangan, golongan orang macam ini tetap bisa menikmatinya. Meski letih, tetap bisa tersenyum dan berterima kasih pada Sang Pemilik Hidup.

Mengapa demikian? Karena batinnya tenang dengan keimanan yang kokoh. Melalui batin yang tenanglah bisa melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Semua kebijaksanaan hidup lahir dari batin yang tenang. 

Mengapa banyak pemenang jasmani bisa kalah secara ruhani? Bisa jadi mereka tidak mampu menyingkirkan batu sandungan. Keinginan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan amat mendarah daging hingga tak bisa lagi membedakan jalan gelap dan terang.

Apakah pemenang jasmani selalu terpisah dengan pemenang ruhani? Tidak. Ada golongan yang saya sebut sebagai “Lebih dari pemenang”, yakni orang-orang yang sukses jasmani dan ruhani. Hidupnya serba berkecukupan, perilakunya senantiasa tunduk pada ketentuan Illahi, batinnya berlimpah damai dan cinta kasih, berkecukupan hati dengan iman tak tergoyahkan.

Itulah jawaban saya pada seminar itu, saya bersyukur karena tak ada yang mendebat atau mengejar tanya serupa. Bisa-bisa saya mandi peluh meski penyejuk ruangan di seminar itu sudah bekerja maksimal. Semoga saja jawaban saya tidak melenceng dari kaidah-kaidah religiusitas dan spiritualitas. Seusai seminar, saya merenung dan mencoba menilai posisi saya sendiri. Ingginnya sih bisa masuk kelompok “lebih dari pemenang”. Nyatanya, jauh panggang dari api. Masih amat jauh dari predikat pemenang jasmani. Bahkan, dengan kesadaran penuh dan tanpa malu, saya menilai diri sendiri masih berstatus pecundang rohani. Semoga dengan sisa umur yang ada, bisa saya pergunakan untuk memperbaikinya. Kalau toh sampai akhir hayat tak bisa jadi pemenang jasmani, setidaknya saya menaruh cita bisa menjadi pemenang rohani. Insya Allah. Bagaimana dengan Anda? (*)

*Pengusaha properti dan penulis novel