Peluang Pajak di Surabaya Masih Terbuka

Peluang Pajak di Surabaya Masih Terbuka
Kepala P2 Humas DPJ I Teguh Pribadi, Kepala DPJ I Jatim Hestu Yoga Saksama, dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/11/2015). Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Pembangunan suatu negara ditentukan dari besarnya penerimaan pajak. Karena di dalam suatu negara tidak akan dapat berdiri tanpa pajak yang dihasilkan atau dibebankan kepada masyarakat yang menjadi wajib pajak (WP).

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan, besarnya fungsi pajak sendiri dari WP dapat dikatakan sebagai nasionalisme bangsa karena potensi pajak di Jatim sangatlah besar.

“Pajak dapat dikatakan sebagai perspektif ekonomi berupaya mengurangi gap antara masyarakat menengah atas dengan yang mempunyai penghasilan bawah atau mempunyai penghasilan Rp 3 juta per bulan, itu sudah layak untuk jadi WP baru,” tegas Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/11/2015).

Dosen statistika ITS Surabaya ini mengkritisi masyarakat yang kurang sadar pentingnya untuk membayar pajak. Misalnya kini banyak orang yang menjalankan jasa secara online dan menganggap bila penghasilan mereka tidak kena pajak.

Juga yang ramai kini diberitakan tentang aksi unjuk rasa angkutan kota yang baru terjadi kemarin akibat peraturan pemerintah yang meminta pemilik angkot untuk memiliki badan hukum.

“Punya 16 angkot tapi gak mau fair dengan tidak punya badan hukum karena mereka tidak mau bayar pajak. Kasihan sopirnya karena cuma pegawai yang dibayar bulanan. Jadi negara harus bisa memberikan pemahaman yang baik kepada setiap masyarakat,” terusnya.

Menurut dia, di Surabaya sendiri penerimaan pajaknya bisa digenjot karena pertumbuhan perekonomiannya masih 6 persen. Dan masih lebih bagus dibanding daerah lain yang hanya pertumbuhannya hanya 4,7 persen dan Provinsi yang mencapai 5,3 persen.

“Harga properti di Indonesia, Kota Surabaya sendiri tertinggi kedua setelah Makassar baik itu volume dan harganya. Jadi peluang pajak di kota ini sangat besar dan masih terbuka,” terusnya.

Kepala Kanwil Direktorat Pajak (DPJ ) I Jatim Hestu Yoga Saksama mengatakan, kesadaran masyarakat untuk bayar pajak masih kurang. Setelah pihaknya lakukan pemeriksaan, terdapat laporan dari Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) tidak sama dengan hasil audit yang dilakukan oleh pihaknya.

“Ini adalah semacam koreksi bagi auditor. Biasanya tidak sama dengan kondisi realnya,” tegas Hestu Yoga Saksama.

Pihaknya sendiri kini terus meng Intensifikasi pajak mencari WP baru yang seharusnya melaksanakan kewajiban. Target secara nasional mencapai Rp 40 triliun sedang pihaknya diberi ekstensifikasi target sebesar Rp 1,9 triliun. “Hingga hari ini kami bisa mencapai Rp 400-500 miliar yang kami peroleh dari lini ini,” ujarnya.

Dia berharap WP yang belum terdaftar mau mendaftarkan dirinya secara sukarela di tempat yang telah ditunjuk. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan penyisiran secara regional melalui kecamatan mulai awal tahun depan. “Upaya-upaya ini yang akan kami teruskan untuk mencapai target pajak,” tukasnya.

Kepala P2 Humas DPJ I Teguh Pribadi mengatakan, pihaknya mendapatkan WP baru dari kerjasama dengan pihak Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan perluasan pajak. Dari tahun 2012 hingga 2015, jumlah WP sendiri meningkat dari yang terdaftar 160 ribuan sekarang menjadi 192 ribuan. Kantor DJP I Jatim sendiri, ada beberapa program pembinaan pajak yang berlaku hingga 31 Desember mendatang.

“Kami tidak bisa bekerja secara sendirian bila tidak didukung oleh masyarakat. Sasaran target pajak sendiri kan sangat luas,” kata Teguh. (wh)

Marketing Analysis 2018