Pelaku Usaha PE Ikut Pelatihan Pengawetan Produk di SETC

Pelaku Usaha PE Ikut Pelatihan Pengawetan Produk di SETC

Prof Dr Teti Estiasih memberikan materi pengaweitan muta dan produk di SETC di Prigen, Kabupaten Pasuruan, Rabu (11/6/2018).foto:humas pe

Puluhan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya mengikuti pelatihan pengawetan mutu dan awetan produk yang digelar Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) di Prigen, Kabupaten Pasuruan, Rabu (11/6/2018) pagi. Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pemasaran pelaku usaha.

Dalam acara tersebut , sejumlah masalah yang dialami pelaku usaha Pahlawan Ekonomi diinventasisasi. Di antaranya masalah batas waktu konsumsi produk alias kedaluarsa (expired). Hal itu dibutuhkan karena jumlah pesanan produk pelaku usaha Pahlawan Ekonomi terus mengalami peningkatan. Bukan hanya di Surabaya, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia bahkan di luar negeri.

“Yang saya alami kacangnya masih renyah, tapi baunya tidak sedap. Saya sudah coba pakai vakum, tapi belum berhasil,” tutur Suparti, owner Kacang TreeG.

Suparti yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di Malaysia selama 12 tahun ini, memulai usaha pada tahun 2011. Awalnya, ia menjual kacang goreng di 500 warung kopi di Surabaya, Kini, Kacang TreeG telah berkembang dijual di ritel-ritel modern.

Sekarang, kemasan Kacang TreeG juga berubah jauh lebih baik lantaran produknya sudah di Tata Rupa, program repackaging dan rebranding yang bekerja sama dengan Kreavi. Kacang TreeG juga menjadi salah satu dari empat produk Pahlawan Ekonomi yang dijual dijual di dalam pesawat Citilink.

Pelaku Usaha PE Ikut Pelatihan Pengawetan Produk di SETC
Pelaku usaha Pahlawan Ekonomi mengikuti pelatihan di SETC. foto:humas pe

Lain halnya dengan Aminah. Perempuan yang sukses berjualan semanggi ini mengaku pernah mendapat pesanan dari Kanada. Aminah menawarkan inovasi semanggi kering buatannya, namun ditolak.

“Mereka minta semanggi yang basah. Di Kanada tidak boleh mengirim semanggi kering. Lha, ini kan sulit. Kalau ngirim semanggi basah dari Surabaya ke Kanada barangnya kan tidak bisa tahan lama,” tutur perempuan yang tinggal di Sambikerep, Surabaya, ini.

Sementara Chofiyah, owner Dapung Flamboyan, menanyakan masalah bahan pengawet untuk produk roti. “Ada gak bahan pengawet yang boleh dipakai agar lapis saya bisa tahan lama,” katanya.

Pelaku Usaha PE Ikut Pelatihan Pengawetan Produk di SETC
foto:humas pe

Chofiyah menjalani usaha membuat lapis Surabaya. Selama ini, barangnya hanya bisa bertahan selama 3-4 hari. Bila disimpan di freezer bisa bertahan hingga 6 hari. Lebih dari itu, lapis Surabaya buatannya menjamur dan berbau.

Sementara pelaku usaha lain menginginkan seal dan vakum agar produk bisa bertahan lama dan berkesan eksklusif. Juga terkait legalitas dan perizinan yang masih terkendala, khususnya izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam pelatihan ini, hadir sebagai Prof Dr Teti Estiasih, guru besar bidang Ilmu Kimia dan Teknologi Lipid Universitas Brawijaya. Teti memaparkan meteri Good Manufactoring Pratices (GMP) serta Prinsip Pengolahan dan Pengawetan Pangan. Selama dua jam, Teti memberikan pencerahan terkait masalah yang dialami pelaku usaha kreatif.

Sebelum usai, para pelaku usaha Pahlawan Ekonomi diajak praktik langsung cara mengemas minuman. (wh)

Pelaku Usaha PE Ikut Pelatihan Pengawetan Produk di SETC
foto:humas pe
Marketing Analysis 2018