Pegadaian Berorientasi jadi Financial Institution

Pegadaian Berorientasi jadi Financial Institution

Hermawan Aries Andi dan Kresnayana Yahya

Pegadaian mulai berkembang dari social institution menjadi financial institution. Pada tahun 2018, aset dari Pegadaian mencapai Rp 5 triliun. Hal ini membuktikan jika Pegadaian menjadi salah satu industri jasa keuangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan Chairperson Enciety Consult Business Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (16/11/2018). Acara ini juga dihadiri Senior Vice President Regional Jawa Timur PT Pegadaian (Persero) Hermawan Aries Andi.

Kresnayanan menegaskan, lembaga jasa keuangan ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Yang mengembangkan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Di seluruh dunia, instrumen lembaga jasa keuangan ini hanya ada Indonesia dan Belanda.

“Dulu, lembaga ini memiliki fungsi sosial yang lebih menonjol. Karena jika orang-orang dulu punya barang tapi tidak punya uang, orang dapat menjaminkan barang untuk mendapatkan pinjaman uang. Zaman dulu, success story pegadaian ini sangat dinikmati petani,” katanya.

Instrumen pinjam uang dengan menggadaikan barang ini sudah mulai bergeser. Hal ini dipengaruhi perilaku sosial, ekonomi, dan teknologi yang makin membuat masyarakat meninggalkan prilaku seperti itu. “Ini yang disebut sebagai disruption,” cetus Bapak Statistika Indonesia itu.

Tidak hanya barang-barang berharga seperti emas dan perhiasan lainnya. Saat ini, sebut Kresnayana, Pegadaian telah menerima surat-surat berharga. Disebutkan, cara masyarakat menggadaikan sepeda motor dengan menjaminkan surat-surat berharga seperti Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Melalui cara itu, kegiatan operasional masyarakat tidak terganggu meski asetnya digadaikan.

“Masyarakat kini lebih berkembang dan makin modern. Contohnya begini, dulu orang harus menggadaikan panci atau kain untuk mendapatkan uang untuk makan. Namun, masyarakat sekarang mulai sadar, mereka menggadaikan sesuatu untuk usaha. Ini sekarang sering dilakukan pelaku UKM untuk mencari dana segar yang digunakan untuk mengembangkan usaha,” tegas Kresnayana.

Hermawan Aries Andi menjelaskan, sebagai perusahaan, Pegadaian saat ini telah jauh berkembang. Kata dia, sejak menjadi persero pada 2012, Pegadaian memilih menjadi financial institution.

“Lalu di 2018 ini, kami memasuki masa transformasi. Di mana kalau dulu orang ingin pinjam uang di Pegadaian harus taruh barang, sekarang orang bisa pinjam uang di Pegadaian tanpa agunan atau yang biasa kita sebut dengan Kredit Tanpa Agunan (KTA). Orang hanya menaruh bukti surat kepemilikan tanpa harus barang ketika ingin pinjam duit,” tandas dia.

Ke depan, imbuh Hermawan, Pegadaian bakal memiliki segmentasi pasar tersendiri yang dibidik. Di antaranya pasar fintech. Saat ini, Pegadaian telah menyiapkan sistem yang tepat bisa masuk dalam pasar tersebut.

“Di era digital, masyarakat didominasi kaum milenial. Rencananya, mulai tahun 2019-2023, atau selama 5 tahun ke depan, kita sudah merancang sistem transaksi melalui digital. Sekarang yang mulai berjalan program investasi Pegadaian yang biasa dikenal dengan tabungan emas yang bisa di akses di aplikasi Pegadaian Digital Service (PDS),” ungkapnya.

Dengan rule perusahaan yang baru, bisa jadi tugas appraisal di Pegadaian tidak lagi hanya sekadar menilai barang, melainkan menilai track record orang yang ingin meminjam uang. (wh)

 

Marketing Analysis 2018