Pasokan Beras Jatim 2019 Naik Signifikan

Pasokan Beras Jatim 2019 Naik Signifikan

Kresnayana Yahya di Radio Suara Surabaya.arya wiraraja/enciety.co

Jumlah pasokan beras di Jatim saat ini mengalami kenaikan signifikan. Enciety Business Consult mencatat, luas lahan tanam di Jatim mencapai 1,83 juta hektar. Sedang angka rekapitulasi produksi beras per tahun di Jatim angkanya mencapai 10,4 juta ton.

“Jika dilihat dari catatan jumlah konsumsi Jatim, angkanya cukup mengesankan, sekitar 1,75 juta ton,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/1/2019). 

Menurut dia, Jatim telah menjadi pemasok utama berbagai komoditas pertanian ke pasar Indonesia. Angkanya sekitar 1,7 juta ton. Maka dari itu, hari ini di bulan Januari kita sudah bilang jika tahun 2019 ini Jatim mengalami panen rata untuk berbagai komoditas,” tandas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Lewat angka-angka tersebut, Kresnayana menjelaskan jika saat ini stabilitas harga komoditas pangan terutama beras di Jatim cukup stabil. Contohnya, harga beras medium harganya di kisaran Rp 8,9 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram.

“Jika ditarik kebelakang, pada bulan November-Desember atau masuk musim persiapan tanam, petani tidak mengalami kesulitan mencari dana untuk beli pupuk, beli bibit dan lain sebagainya. Jelas hal ini sangat mempengaruhi stabilitas harga saat ini,” tegas Kresnayana. 

Kresnayana menjelaskan, saat ini jumlah pasokan komoditas beras sangat tersedia dengan baik. Bahkan tercatat sampai awal Januari 2019 ini jumlah pasokan beras di gudang-gudang Bulog jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Bulan Maret-April, daya beli petani kita ini naik. Perlu diketahui, jumlah petani kita saat ini masih sangat besar. Jika daya beli petani naik ekonomi kita makin bagus,” tegas Kresnayana.

Agar dapat menjamin kestabilan harga di pasaran, terang dia,  ibutuhkan peran pemerintah untuk memutus mata rantai perdagangan yang terlalu panjang.

“Hari ini sudah saatnya petani ini menjadi entrepreneur yang dapat menjual hasil panennya langsung ke masyarakat. Lantas, untuk para oknum tengkulak ini hendaknya jangan seenaknya sendiri. Terutama mereka-mereka yang menaikkan harga seenaknya itu,” kata Kresnayana.

Untuk para customer atau masyarakat, sambung Kresnayana, hendaknya mencermati tiga poin penting dalam hal konsumsi pangan. Pertama, jangan sampai masyarakat membuang makanan. Hingga sekarang, banyak bahan pangan yang terbuang.

“Masyarakat ini perlu disadarkan, jika setiap bahan makanan yang ada itu melalui proses pertanian yang panjang dan banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk membuatnya. Jadi jangan sampai dibuang-buang,” tegas Kresnayana.

Kedua, masyarakat harus belajar diversifikasi pangan. Artinya, masyarakat jangan sampai berpatok pada satu jenis bahan pangan. Contohnya saat ini adalah beras.

Ketiga, hargai para petani.  “Para petani hari ini butuh support sosial. Karena mereka ini bagian terpenting dalam menjaga ketersediaan pangan. Hari ini pertumbuhan penduduk Jatim naik di atas satu koma. Nah, pertumbuhan ini butuh support dari mereka,” pungkas Kresnayana.(wh)