Pasar Muslim Indonesia dan GDP/Kapita 3000 Dolar

Ironi Harga Kepiting yang Kian Melangit

Fajar Haribowo, Peneliti Senior Enciety Business Consult

Lima belas tahun lalu, belanja iklan terbesar untuk produk yang menyasar pasar muslim di Indonesia mungkin hanya ada pada produsen sarung. Kini, dalam satu dekade terakhir, aktivitas ekonomi yang digerakkan oleh gaya hidup muslim, perilaku konsumsi dan praktik bisnis yang sesuai dengan ajaran Islam tumbuh bak jamur di musim penghujan. Iklan travel, bank, fashion, obat-obatan, dan kosmetik yang diperuntukkan bagi muslim dan muslimah banyak menghiasi layar kaca.

Beberapa tahun lalu, populasi penduduk muslim di Indonesia yang besar belum menjadi sesuatu yang unik dan nyentrik bagi pemasaran barang dan jasa. Pasar muslim di Indonesia belum dilihat sebagai pasar yang perlu digarap dengan sentuhan khusus. Pasar ini hanya disuguhi produk konvensional belum menyentuh sisi syariah. Arah kebijakan politik Orde Baru yang mengerem kebebasan berekspresi dan demokrasi sedikit banyak memperlambat tumbuhnya inovasi dan diferensiasi produk terutama yang karakteristiknya syariah.

Seperti diketahui, Indonesia adalah salah satu negara dengan mayoritas penduduk Islam terbesar di dunia. Mengutip publikasi Sensus Penduduk tahun 2010,  dari 237.641.326 penduduk Indonesia, 87,18 persen  adalah pemeluk Islam, 6,96 persen, Protestan, 2,9 persen Katolik, 1,69 persen Hindu, 0,72 persen Buddha, 0,05 persen Kong Hu Cu, 0,13 persen agama lainnya, dan 0,38 persen tidak menjawab.

Sejak Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan hingga menjelang kejatuhan rezim Orde Baru, potensi ini hanya sebatas angka dan belum memiliki nilai kapital bagi pertumbuhan aktivitas ekonomi Islami.

Hingga kemudian beberapa merek produk syariah lahir menjelang dan awal reformasi. Dan kini mereka semakin eksis, dan seolah menjadi perintis ekonomi berbasis syariah di Tanah Air.

Di industri perbankan, kita mengenal Bank Muamalat. Bank ini berdiri atas prakarsa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia. Bank Muamalat memulai kegiatan operasinya pada 27 Syawal 1412 H atau 1 Mei 1992. Meski terseok-seok pada awalnya, terutama menjelang krisis ekonomi namun pada tahun 1999 hingga 2002 Bank Muamalat memasuki masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan. Bank Muamalat berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba.

Di industri komestik, kini kita mengenal Wardah. Sekarang kita makin sering melihat iklan kosmetik Wardah di layar kaca. Wardah lahir pada tahun 1995 dan mengalami masa sulit hingga 1999. Baru pada kurun waktu 1999 – 2003 Wardah menikmati tren penjualan yang signifikan. Kini, Wardah identik sebagai brand kosmetik halal, dengan brand ambassador perempuan hebat dan berkarakter kuat, seperti Inneke Koesherawati, Marshanda, Dewi Sandra, dan Dian Pelangi.