Paradigma Baru Kaum Muda Jelang MEA

Paradigma Baru Kaum Muda Jelang MEA
Kresnayana Yahya

Terus menciptakan inovasi. Itulah kata kunci yang perlu dilakukan generasi muda jelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Berbagai ide, kreasi, dan harapan dan kerja keras harus terus dikelola untuk mewujudkan sebuah mimpi.

Anak-anak muda harusnya fokus pada kelebihan masing-masing. Tak hanya itu, kaum muda harus berbalik arah dari pemikiran tradisional menuju modern. Hal itu suatu keniscayaan yang tak terhindarkan. Zaman yang terus berubah. Zaman selalu melahirkan generasi.

Di Indonesia, saya melihat generasi mudanya sudah mulai menggeliat. Misalnya, ada beberapa kelompok anak muda yang membuat perkumpulan yang akhirnya menjadi booming dan diikuti oleh ribuan orang. Seperti kaskus, tokopedia, dan lain-lain. Sekarang, bermunculan miliader baru oleh remaja yang berusia 25 tahun ke bawah. Ini sangat menggembirakan.

Begitupun di Surabaya, harus muncul generasi kelas dunia. Dengan bermodalkan utama ide, skill dan kreativitas, mereka harus terus bergerak. Carilah teman untuk bersinergi.

Para generasi muda harus berani melihat peluang. Indonesia adalah negara besar dengan market besar pula. Ada potensi besar yang bisa dijamah dan bisa dikembangkan.

Bila sudah berhasil, generasi muda tidak usah tinggi hati, congkak. Kesalahan yang utama adalah ketika sudah sukses kemudian menjadi sombong. Harus diingat, kekuatan utama adalah mandiri. Kesalahannya adalah tidak punya keyakinan dan sombong hingga akhirnya tidak fokus pada kekuatan.

Pun bila sudah sukses diharapkan dapat menggandeng anak-anak muda lain. Dengan mengajarkan suatu ilmu, maka akan dapat mendorong banyak orang untuk berkembang. Hidup harusnya bermanfaat untuk teman yang lain.

Inilah paradigm baru. Dimana salah satu kekuatannya adalah membangun usaha baru. Yang tidak harus memikirkan cara lama. Tidak usah mikir modal. Sekarang modal utamanya adalah ide dan kreativitas, lalu dipupuk dengan wawasan bisnis. (*)

Marketing Analysis 2018