Okupansi Retail Property Surabaya Capai 80 Persen

Okupansi Retail Property Surabaya Capai 80 Persen

Feri Salanto. foto:arya wiraraja/enciety.co

Surabaya menjadi market leader retail property di Indonesia bagian Timur. Hingga pertengahan tahun 2018, nilai okupansi retail property di Kota Surabaya mencapai 80 persen.

Feri Salanto, senior associate director research Colliers International, menjelaskan pertumbuhan retail property yang didominasi mall ini hingga kini menjadi sektor properti yang paling cepat pertumbuhannya di Surabaya.

“Diperkirakan sekitar awal tahun 2019 mendatang, banyak ekspansi brand luar yang mau masuk ke Surabaya. Untuk saat ini mereka masih mencari space dan peluang yang baik,” terang Feri Salano dalam Press Luncheon Laporan Property Market di Lobby Floor Four Points Hotel Sheraton, Selasa (14/8/2018).

Selain itu, kata Feri, ada pertimbangan lain yang dicermati brand international yang bakal masuk Surabaya. Yaitu, nilai pertumbuhan ekonomi Kota Pahlawan yang sangat tinggi di kawasan Indonesia bagian Timur.

“Potensi market dan daya beli masyarakat Surabaya tinggi setelah Kota Jakarta. Ditambah lagi kota ini juga dikenal sebagai Kota Pendidikan. Sehingga kombinasi potensi ini yang membuat banyak brand international itu mau masuk berinvestasi,” tegas dia.

Feri lantas menjelaskan detail keterkaitan pertumbuhan retail property di Surabaya dengan meningkatnya nilai transaksi toko online. Menurut dia, bagi produk-produk kelas menengah ke bawah, keberadaan toko online memang berdampak. Namun, untuk produk-produk kelas menengah atas efeknya tidak signifikan.

“Saat ini telah terjadi simbiosis antara toko online dengan toko offline. Artinya, bagi mereka yang telah sukses berjualan di toko online kini juga mulai membuka toko di mal. Alasan mereka buka toko offline di mal-mal ini karena harus men-display produk,” terang dia.

Feri juga mengatakan kelebihan yang dimiliki toko offline ketimbang toko online. Bagi dia, kelebihan yang ditawarkan oleh toko offline adalah experience bagi para pelanggan. Pengalaman mencoba produk secara langsung yang didapat para pelanggan yang membeli di toko offline ini tidak bisa didapatkan di toko online.

“Tidak hanya itu, dengan berbelanja di mal, semua kebutuhan keluarga dapat terakomodir. Mulai dari kebutuhan hiburan, makan, dan lain sebagainya dapat dinikmati saat kita pergi berbelanja di mal. Jadi, keberadaan toko online yang berkembang sekarang ini tidak membunuh keberadaan toko offline,” sebut Feri. (wh)