Okupansi Apartemen di Surabaya Naik, Hotel Bintang Tiga Turun

Okupansi Apartemen di Surabaya Naik, Hotel Bintang Tiga Turun

Feri Salanto, senior associate director research Colliers International, di Lobby Floor Four Points Hotel Sheraton, Selasa (14/8/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Tingkat okupansi atau hunian kamar hotel di Surabaya makin menurun tiap tahunnya. Hal ini ini dikarenakan jumlah unit kamar hotel di Kota Pahlawan mengalami peningkatan. Penurunan ini juga dikarenakan banyak dari masyarakat yang datang ke Surabaya memilih menyewa apartemen ketimbang menyewa di kamar hotel bintang tiga yang harganya tidak jauh berbeda.

Hal ini disampaikan Feri Salanto, senior associate director research Colliers International, dalam Press Luncheon Laporan Property Market di Lobby Floor Four Points Hotel Sheraton, Selasa (14/8/2018).

“Pertimbangan tersebut dipilih oleh masyarakat yang menghabiskan waktu panjang di Kota Surabaya. Kebanyakan mereka yang datang dengan keluarga lebih memilih apartemen untuk menginap untuk jangka waktu tiga hari sampai seminggu,” tandas dia.

Pertimbangan kuat lain yang mendasari hal tersebut, jelas Feri, juga datang dari fasilitas-fasilitas keluarga yang ditawarkan apartemen tidak kalah ketimbang hotel bintang tiga di Surabaya.

“Dengan adanya fasilitas seperti fasilitas memasak dan fasilitas keluarga seperti kolam renang, banyak masyarakat yang beranjak menggunakan apartemen ketimbang hotel bintang tiga,” tutur Feri.

Feri juga mengatakan, keberadaan apartemen di Surabaya bakal terus meningkat. Ada 32.144 unit baru apartement yang bakal dibangun di Surabaya hingga tahun 2021. Pertumbuhan tersebut setara dengan 104 persen dari jumlah total unit apartemen yang ada sekarang ini.

Kata Feri, pasar apartemen Surabaya banyak diminati masyarakat Indonesia Timur. Kebanyakan yang membeli adalah mereka yang memiliki anak yang menempuh pendidikan di Surabaya.

“Alasannya rasional, ketimbang mereka mengeluarkan biaya kos bagi anak-anak mereka yang jumlahnya kurang lebih sama dengan harga beli apartemen, ya mending beli aja. Hitung-hitung sekalian jadi investasi di Surabaya,” cetus dia.

Jika dibandingkan Jakarta, Surabaya memiliki keunikan tersendiri terkait pasar apartemen. Menurut dia, di Jakarta, masyarakat menjadikan apartemen  menjadi rumah pertama. Berbeda dengan Kota Surabaya, kebanyakan masyarakat yang membeli apartemen adalah masyarakat yang telah mapan dan memiliki rumah.

“Masyarakat di Surabaya membeli apartemen untuk dijadikan investasi atau aset. Contohnya ada di kawasan Surabaya Timur. Ada investor yang beli apartemen untuk dijadikan kos-kosan eksklusif. Dia berani beli apartemen satu lantai yang isinya bisa lebih dari 5 ruang apartement,” ungkap Feri. (wh)

Marketing Analysis 2018