Njeketek, Melebihkan Identitas Suroboyo

Njeketek, Melebihkan Identitas Suroboyo

Identitas tak akan pernah mati. Karena ia akan selalu melekat dalam setiap individu dan terus hidup. Seiring bergulirnya waktu dan putaran zaman. Tak salah bila identitas selalu mengusung karakter, kepribadian, dan kebanggaan.

Spirit itulah yang menyemati Solichin Al Rasyid (40), owner kaus Njeketek. Arek Simolawang ini, hingga sekarang terus melahirkan produk-produk bercita rasa Suroboyo. Sudah ratusan produk lahir dari tangannya. Dari jenis kaus, aksesori, dan lain-lain.

Produk-produk Njeketek sudah terbesar di beberapa  kota di Indonesia. Bahkan sebagian pemesan produknya adalah mereka yang sekarang bermukim di luar negeri.

contoh-produk1   contoh-produk2

“Saya percaya, cita rasa Surabaya banyak yang menggemari. Karena itu, saya tidak khawatir produk-produk yang saya buat tidak laku di pasaran,” ujar Solichin kepada saat ditemui enciety.co di kedai Kopi Njeketek di Jalan Jolotundo 9, Surabaya.

Solichin lalu menuturkan awal–awal membangun usaha ini. Ceritanya, sebagai Arek Suroboyo, Solichin memang hobi cangkrukan. Ngopi sambil ngomong ngalur-ngidul bersama teman-teman sebaya. Di setiap obrolan, selalu tercetus gojlokan, celotehan, nyanyian, dan lontaran kata-kata Suroboyoan. Subtansinya pun beragam. Lucu, satire, lugas, bahkan tak jarang kontemplatif.

Solichin lalu mencoba untuk memberikan kesan. Bentuknya pun kemudian dia wujudkan dengan produk-produk yang kini ia pasarkan. “Konsepnya murni Surabaya. Mengutak-atik bahasa Suroboyoan,” tutur dia seraya menambahkan kalau ia juga terinspirasi banyaknya distro yang bermunculan di Surabaya.

Tahun 2011, Solichin memberanikan diri membuka usaha. Modalnya patungan bersama salah seorang koleganya, Zainul Arifin. “Kebetulan kami yang sama-sama menyukai desain. Kita juga pernah bersama-sama sempat dapat job mengerjakan reklame. Jadinya klop, kita buat usaha ini yang melahirkan produk-produk Suroboyoan,” terang Solichin yang juga penyiar radio swasta ini.

Kala itu, sambung dia, modal yang dikeluarkan Solichin tak kelewat besar, sekira jutaan rupiah. Itu cukup untuk mencetak beberapa lusin kaus dan beberapa aksesori. Produk-produk itu kemudian ia lempar ke pasar. Awalnya dari mulut ke mulut hingga dititipkan ke gerai-gerai. 

“Sekarang 70 persen Kebanyakan produk kami jual via online, 30 persen ritel,” beber Solichin.

Sejumlah desain kaus yang dilabeli Njeketek mulai dikenal, seperti Ngenges, Kuapokmu Kapan, Onthong-Onthong Bolong, Cul-Culan Ngadek Dewe, Udanno Sing Deres, Onook kucing Umba-Umba, Duwike Satus Selawe, Joe One Cok, Putting Beliung (pentil muter), dan masih banyak lagi.

Solichin mengungkapkan, untuk menjaga kualitasnya, ia sengaja tak membuat produk banyak di setiap desainnya. Untuk satu desain kaus, paling banter ia cetak tiga lusin saja. Ini dikarenakan ia ingin menanamkan kesan limited edition.

“Saya yakin tak akan kehilangan ide dalam membuat desain. Karena kebanyakan desain kami lahir dari inspirasi saat cangkrukan,” ucap Solichin, lalu tersenyum.

Saat ini, imbuh dia, Njeketek berupaya keras menerobos pasar bisnis kaus dan aksesori yang diyakini tak pernah mati. Selain penggemarnya di NTB dan  Kalimantan Timur yang hampir rutin membeli produknya, mereka juga berusaha mencari tahu perkembangan Surabaya.

“Di Hongkong dan Singapura ada beberapa konsumen kita yang selain membeli mereka intensif mengikuti produk-produk baru kami,” kata Solichin bangga.

Selain kaus dan aksesori, Njketek kini juga mengembangkan bisnis kedai kopi Suroboyo Fried Chicken yang buka pada Februari 2014 lalu, di Jalan Jolotundo 9, Surabaya. Juga, Njeketek Corner di Jalan Tenggumung Karya Lor 54, Surabaya.(wh)

Marketing Analysis 2018