Narasi Para Ahli

Narasi Para Ahli

Siapa tak kenal Edward Snowden? Buronan Amerika Serikat karena membocorkan rahasia intelijen AS (NSA) ini ternyata pernah berguru di sebuah kursus komputer Koenig Solutions di Moti Nagar, New Delhi tahun 2010.

Dengan mengasah ketajamannya di bidang teknik meretas, dalam waktu seminggu dia berhasil mendapatkan sertifikat EC-Council Certified Security Analyst (ECSA). ECSA merupakan kursus empat hari yang didesain untuk melatih tenaga ahli di bidang keamanan dan teknik komputer.

“Untuk mengalahkan seorang hacker, Anda harus berpikir seperti mereka,” tulis situs EC-Council dilansir The Times of India.

“Snowden merupakan peretas etis dan dia memilih untuk mengikuti kursus jalur cepat. Saya tidak butuh terlalu banyak waktu untuk mengajarinya bagaimana mengeksploitasi serangan dan memahami jaringan wireless hacker. Dia dapat memahami kerentanan keamanan dan hasil dari sebuah percobaan keamanan,” kata Sisir Pandey, Manajer Teknis di Koenig yang mengajari Snowden mengenai ECSA.

Snowden, tertarik belajar di India dan mengirimkan surel pendaftaran dari Jepang, saat dia tinggal di sana 23 Juli 2009.

Dia bertanya mengenai informasi Kursus Investigasi Forensik Peretasan Komputer dan Program Sertifikasi Peretas Etis. Koenig kemudian membalas dengan undangan visa kepada Snowden yang diajukan dari Kedutaan India di Jepang.

Di Indonesia nama Jim Geovedi, sudah tak asing lagi. Dia merupakan ahli keamanan sistem teknologi dengan reputasi dunia. Jim tidak hanya sanggup meretas sistem komputer milik perusahaan atau individu, dia juga mampu mencuri data-data penting seperti lalu lintas transaksi bank, laporan keuangan perusahaan atau bahkan mengamati sistem pertahanan negara.

Kini, Jim yang bermukim di London sejak tahun 2012, telah mendirikan bisnis sendiri dengan mendirikan perusahaan jasa sistem keamanan TI bersama seorang rekan. Dia menangani para klien yang membutuhkan jasa pengamanan sistem satelit, perbankan dan telekomunikasi.

Sejak dua tahun terakhir, dia sibuk mengembangkan artificial intelligence komputer. Namun, dengan seabrek pencapaian, Jim menolak disebut sebagai ahli.

 

***

Kamus Ensklopedia bebas Wikipedia menulis pakar atau ahli ialah seseorang yang banyak dianggap sebagai sumber tepercaya atas teknik maupun keahlian tertentu yang bakatnya untuk menilai dan memutuskan sesuatu dengan benar, baik, maupun adal sesuai dengan aturan dan status oleh sesamanya ataupun khayalak dalam bidang khusus tertentu. Lebih umumnya, seorang pakar ialah seseorang yang memiliki pengetahuan ataupun kemampuan luas dalam bidang studi tertentu.

 

Komunitas

Penelitian perilaku yang baik hanya “menunjukkan” sesuatu, dan bukannya mengatakan sesuatu. Itu lah sebabnya mereka lebih suka menggunakan teknik “mengamati” alih-alih mengajukan pertanyaan yang mungkin  akan membingungkan atau menyamarkan narasi gaya hidup dari orang-orang yang tinggal atau mencipta bagi diri sendiri  setiap hari.

Hal ini sama halnya dengan mengenalkan produk baru. Alih-alih “mengatakan” apa yang dilakukan sebuah produk, penelitian menunjukkan bahwa pembelian terjadi dengan lebih baik jika orang melihat bagaimana produk itu beroperasi, atau memperhatikan orang lain yang ada dalam komunitas atau kelompok sosial mereka.

Dengan kata lain, mereka belajar dari narasi sesama konsumen, atau dari kisah mengenai produk itu.

Perhatikan bagaimana orang-orang melakukan hal itu ketika mereka dihadapkan pada cara makan yang baru. Misalkan ketika menggunakan sumpit, mencicipi koktail, atau ketika mencoba jenis makanan baru seperti sushi, gado-gado, dan lain-lain.

Mereka memperhatikan, mencatat, kemudian berhubungan dengan teman-teman atau dalam situasi tertentu . Jika eksperimen atau pengalaman menjadi sebuah cara untuk menciptakan kohesi kelompok atau untuk menunjukkan kemauan seseorang mencoba sesuatu yang baru. Meskipun ada kalanya juga gagal.

Sean Pilot De Chenecey atau yang dikenal juga dengan nama Captain Crikey, bersama peneliti dan ahli etnografi konsumen menggunakan penelitian perilaku bersama dengan kelompok persahabatan atau ikatan etnografi yang lemah untuk memperoleh  wawasan yang jujur.

De Chenecey menghabiskan waktu beberapa tahun di Eropa dan Timur Tengah dalam dinas militer. Ia gunakan ketrampilannya melakukan pengamatan tersembunyi dan terbuka yang dipelajarinya untuk memahami dengan baik cara konsumen bekerja dank e mana mereka pergi.

Dia mencatat: “bahwa sangat penting untuk berhubungan dengan komunitas yang Anda buat, jika Anda benar-benar ingin memahami mereka, dan sebaliknya mereka juga cukup mempercayai Anda untuk mengatakan apa yang ingin Anda ketahui.

De Chenecey, seorang peneliti paling terkenal di dalam industri periklanan, menyelenggarakan penelitian lapangan berbasis etnografi pada festival musik dan sebagainya pun menulis: -pergilah ke tempat orang muda sering berkunjung, dan bukannya mengharapkan mereka datang kepada saya .

“Kaum remaja umur belasan tahun menggunakan merek dan narasi merek untuk mengkomunikasikan sesuatu tentang siapa mereka”

Kisah belum berakhir. Ini lah yang selalu layak diingat, ketika membaca berita Edward Snowden atau pun Jim Geovedi yang berasal dari luar maupun dari dalam. Yaitu pemahaman “narasi” yang melekat secara kolektif atau yang ada di dalam kelompok, dan “narasi” yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.

Banyak orang enggan disebut ahli, sekalipun reputasinya sudah memiliki keahlian. Di sisi lain muncul fenomena keinginan sementara orang ingin disebut sebagai “ahli”. Ini sebuah narasi!

Narasi hanya sekadar narasi, bukan sesuatu yang bersifat tetap. Sama seperti orang yang menjadi bosan dengan cerita lama yang itu-itu  saja, mereka juga tergugah rasa ingin tahunya dengan cerita yang baru.

Salam ABH!

Marketing Analysis 2018