Naik 27 Persen, Penerimaan Pajak Surabaya Tertinggi di Indonesia

Naik 27 Persen, Penerimaan Pajak Surabaya Tertinggi di Indonesia
Chairperson Enciety Business Consult (EBC) Kresnayana Yahya, Kasie hubungan Pelayanan Masyarakat Kanwil DJP Jatim I Riana, dan Kepala Kantor KPP Pratama Surabaya Heru Pamungkas Wibowo di Radio Suara Surabaya, Jumat (7/11/2014).

Tingginya jumlah investasi yang masuk Surabaya berdampak pada penerimaan pajak. Bahkan, Surabaya tercatat sebagai kota dengan penerimaan pajak tertinggi dibanding dengan daerah lain di Indonesia.

Kepala Kantor KPP Pratama Surabaya Heru Pamungkas Wibowo mengungkapkan, jumlah pendapatan pajak secara keseluruhan Surabaya mencapai Rp 8,9 triliun per tahun. Ini mengindikasikan, dalam kurun waktu setahun saja jumlah pendapatan pajak meningkat 27 persen.

“Selama ini kalau kita bicara Surabaya sangat luar biasa. Banyak investasi tumbuh di Surabaya. Ini berdampak pada pertumbuhan penerimaan pajak di Surabaya yang sangat siginifikan. Pertumbuhannya tertinggi nasional. Padahal pajak di daerah lain di Indonesia cuma 7 sampai 8 persen saja,” beber Heru Pamungkas dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya itu, Jumat (7/11/2014).

Menurut Heru, dengan pertumbuhan pajak yang luar biasa ini akan berdampak pada peningkatan infrastruktur di Surabaya. Berikutnya akan menarik para investor semakin banyak lagi untuk masuk Surabaya.

Chairperson Enciety Business Consult  Kresnayana Yahya menambahkan, pendapatan pajak Surabaya yang tinggi akan berdampak serius pada pertumbuhan investasi Surabaya.

“Ini akan menggeliatkan aktifitas bisnis lebih banyak lagi. Misalnya saja pertumbuhan mal semakin banyak. Apalagi sebentar lagi dari pemerintah pusat akan memperluas pelabuhan di Surabaya,” katanya.

Selain itu, dibukanya jalur double track kereta api yang telah berjalan maksimal juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Surabaya. “Kontainer juga sudah tidak lagi melalui jalanan umum,” ujarnya.

Meski begitu, Menurut Kresnayana, masih banyak lagi harapan masyarakat yang belum terpenuhi. Pembangunan infrastruktur yang belum maksimal harus diselesaikan Pemerintah Kota Surabaya.

“Ekspetasi masyarakat kita ini sangat tinggi. Ibaratnya sudah kebelet. Misalnya saja macet, masyarakat sudah menunggu-nunggu penanganan macet di Surabaya. Kemudian rencana pembangunan trem, angkutan massalnya ini masih proses, padahal masyarakat sudah kebelet,” ungkapnya.

Meski begitu, peningkatan investasi dan pendapatan pajak di Surabaya juga berdampak pada peningkatan ekonomi di daerah lainnya. Dicontohkan Kresnayana, di pedesaaan suplai holtikultura meningkat tajam.

“Permintaan daging ayam, sayur mayur, telur, dan lain sebagainya dalam sebulan terakhir meningkat hingga 7 persen. Sampai-sampai pedagangnya mengaku sepi pembeli, padahal ini karena banyaknya pedagang yang masuk Surabaya,” terangnya. (wh)

 

Marketing Analysis 2018