Mobilitas Tinggi Masyarakat Butuh Penopang Instruktur Memadai

Mobilitas Tinggi Masyarakat Butuh Penopang Instruktur Memadai

Herman Soepardjono, Hari Pratama, Agus Purnomo, dan Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue radio Suara Surabaya, Jumat (7/9/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Tiap akhir pekan, pola konsumsi masyarakat Jatim meningkat hingga dua kali lipat. Hal ini disebabkan peningkatan mobilitas yang dilakukan masyarakat setiap Sabtu dan Minggu. Jika dibandingkan dengan wisatawan mancanegara yang masuk ke Jatim, jumlah wisatawan lokal lebih tinggi dua kali lipat.

“Pola arus mobilitas masyarakat yang tinggi ini butuh penopang instruktur memadai. Lewat pemerataan infrastruktur, perekonomain daerah juga dapat tumbuh merata,” ungkap Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (7/9/2018).

Acara itu dihadiri Direktur Enciety Business Consult Herman Soepardjono, Direktur PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi Hari Pratama, dan Direktur PT Jasa Marga Malang Pandaan Agus Purnomo.

Kresnayana lalu menjelaskan, untuk membangun perekonomian merata, arus lalu lintas sangat penting. Karena dengan murahnya biaya transportasi, harga bahan makin terjangkau.

.Direktur PT Jasa Marga Malang-Pandaan Agus Purnomo menjelaskan, hingga September 2018, progres pembangunan jalan tol Malang-Pandaan yang memiliki panjang 38,48 km itu, telah mencapai 67 persen.

“Sampai saat ini yang masih menjadi kendala terkait pembebasan lahan. Mudah-mudahan, awal bulan Januari 2019 mendatang dapat segera dioperasikan secara penuh,” terang dia.

Kata Agus, ada 5 pintu keluar dan masuk yang dimiliki jalan tol Malang-Pandaan. Pertama, pintu tol KM15 di kawasan Purwodadi. Kedua, pintu tol Lawang. Ketiga, pintu tol Pertigaan Desa Karanglo. Keempat, pintu tol Kecamataan Pakis, Malang. Kelima, pintu tol Sawojajar, Malang.

“Ke depan, fokus pembangunan kami pada pintu tol keempat di Kecamatan Pakis dan pintu tol kelima di Sawojajar. Kedua jalur yang mengarah kedua pintu tol itu baru kami mulai pada bulan April kemarin,” ungkap Agus.

Direktur PT Jasamarga Probolinggo-Banyuwangi Hari Pratama menjelaskan, saat ini pihaknya telah merampungkan desain ruas jalan tol yang memiliki panjang sekitar 173 km.

“Sejak dapat izin pembangunan dari pemerintah pusat pada 29 Desember 2017 lalu, beberapa bulan terakhir kami terus berkoordinasi dengan para pejabat pembuat komitmen dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terkait pembebasan lahan,” beber Hari.

Dari panjang total 173 km, sambung Hari, jalan tol Probolinggo-Banyuwangi melewati tiga wilayah, yaitu Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi.

Dia percaya, jika pembangunan jalan tol Probolinggo-Banyuwangi ini tidak hanya berdampak pada pemerataan perekonomian daerah saja. Karena, wilayah Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi ini memiliki potensi alam yang dapat digunakan sebagai wisata.

“Jadi dengan kata lain, jalan tol ini dapat membangkitkan sektor pariwisata daerah juga,” tegas Hari. (wh)