Minat Baca Orang Indonesia Rendah, Penjualan Buku Stagnan

Minat Baca Orang Indonesia Rendah, Penjualan Buku Stagnan
Wakil Ketua Ikapi Jatim Abdan Dadang (kiri), General Manager Toko Buku Togamas Pujiono (tengah), dan Kresnayana Yahya (kanan).

Minat membaca dan membeli buku di Indonesia masih sangat minim. Banyak hal yang menyebabkan fenomena itu terjadi. Mulai dari minat seseorang itu sendiri, hingga tersedianya toko buku dan perpustakaan di setiap daerah yang belum cukup memadai.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan, minat baca harus terus ditingkatkan, mulai dari umur anak-anak hingga berlanjut dewasa.

“Dari data yang ada, tiap tahun lahir 4,5 juta bayi di Indonesia. Bila mereka sejak kecil diajari untuk suka dan gemar membaca, maka akan membuat negara ini menjadi pintar,” kata Kresnayana Yahya dalam acara talkshow Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (14/11/2014).

Diketahui, terang Kresnayana, ada 70 juta anak yang bersekolah di tahun ini. Mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Bila mereka beli satu buku saja dari 70 juta anak setiap bulannya, maka menunjukkan Indonesia menjadi negara yang gemar membaca. Itu  belum termasuk mahasiswa dan orang dewasa,” paparnya.

Kenyataannya, sambung dosen Statistika ITS itu, di Indonesia sendiri tercatat bila satu buku ternyata dibaca 80 ribu orang. Masih jauh minat baca buku dengan seseorang yang melihat media sosial seperti facebook atau twitter.

“Perbandingan yang sangat luar biasa. Orang berjam-jam di internet, namun belum tentu untuk membaca. Kadang media sosial jadi bagian lain untuk membaca,” lanjutnya.

Wakil Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jawa Timur Abdan Dadang mengatakan, pihaknya masih berkeyakinan bila minat baca di Indonesia bisa ditingkatkan. Baik anak sekolah hingga orang yang sudah bekerja.

“Orang yang pebisnis pun harus mengikuti zaman. Mereka harus mengikuti perkembangan dunia dengan jalan membaca untuk perkembangan bisnisnya,” papar Dadang.

Sekarang memang banyak orang membaca tidak melalui buku. Seperti orang yang lebih suka membeli e-book yang murah. Namun kekurangannya, masyarakat tersebut harus mempunyai gadget dulu.

“Di daerah sulit diterapkan untuk membaca e-book. Jadi kami masih optimis dengan masyarakat yang membeli buku untuk bacaannya,” ujarnya.

Menurut dia, ada sisi yang tidak bisa digantikan bila membaca buku dengan membaca e-book. Karena kadang sebuah buku tidak bisa dinilai harganya.

Seperti bila membeli buku akan mendapatkan tanda tangan penulisnya.  “Ini yang membuat kami masih optimis dengan penjualan buku,” terusnya.

General Manager Toko Buku Togamas Pujiono mengatakan penjualan buku di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya masih stagnan. Tidak ada kenaikan yang cukup berarti untuk penjualan buku. Malah menurutnya, penjualan buku di daerah ada peningkatan. “Seperti Jember dan Probolinggo cukup bagus peningkatannya,” ungkapnya.

Buku-buku yang laris di pasaran adalah buku untuk wanita. Seperti novel dan buku motivasi yang banyak diburu orang. Sedang untuk remaja setingkat SMA dan anak kuliahan mereka lebih senang membeli buku tentang roman dan fantasi. “Dan cirinya remaja mereka membeli buku bila ada filmnya,” tutur dia. (wh)

Marketing Analysis 2018