Menyaring Sampah Media

Menyaring Sampah Media

Oleh: Suwandono*

Sebagai pengusaha, saya bersyukur memiliki ruang pergaulan amat luas, dari kuli bangunan hingga orang-orang yang tidak bisa menghitung jumlah kekayaannya karena sudah terlalu banyak. Ada fenomena menarik terkait perilaku mereka dalam menyikapi pemberitaan media. Untuk menggambarkan perbedaan perilaku itu, saya membagi pergaulan saya dalam dua golongan: kelompok kaya dan belum kaya.

Teman-teman saya yang masuk kelompok belum kaya, ternyata justru memiliki pengetahuan luar biasa komplet. Mereka hampir mengikuti semua topik hangat yang dipapar media massa. Mulai dari politik, ekonomi, kriminalitas, hukum, keamanan, olah raga hingga masalah sosial. Mereka bisa mengupas berbagai update berita hingga detail seperti halnya pembawa acara di televisi.

Sebaliknya, para kolega yang masuk kelompok kaya justru pengetahuannya tidak terlalu luas. Mereka tidak mengikuti semua pemberitaan hingga detail. Kalau toh mereka tau kasus Miranda Goeltom, paling-paling hanya tau bahwa sosialita terkenal itu sedang berurusan dengan KPK. Mereka tidak mengikuti kasusnya hingga amat rinci seperti halnya teman-teman di kelompok belum kaya.

“Saya tidak mau memenuhi otak dengan sampah yang tidak berguna,”  Jawab seorang teman dari kelompok kaya ketika saya tanya alasannya tidak mengikuti semua topik berita di media massa.

Saya amat tertarik dengan kata “sampah” yang dipakai dalam jawaban tersebut. Lantas, saya membayangkan cara kerja sebuah komputer, prosesornya memang bisa lemot jika terlalu banyak muatan file sampah. Hard disc pun cepat penuh jika banyak file yang parkir. Cara kerja otak manusia bisa jadi tak jauh beda dengan komputer. Bila terlalu banyak informasi sampah yang masuk, maka otak pun bisa ikutan lemot.

Awalnya, saya hampir memvonis kawan-kawan di kelompok kaya sebagai orang apatis karena tak tertarik dengan berita-berita yang tidak ada hubungannya dengan dunia mereka (profesi/pekerjaan/ruang lingkup). Namun, saya harus membatalkan vonis itu ketika mengetahui pemahaman mereka lebih jauh. Mereka tidak menutup mata dengan beragam perkembangan yang dikupas media massa, mereka hanya berusaha membuat filter atau menyaring jenis berita yang akan mereka lahap. Jika membaca Koran, hanya membaca judul-judulnya saja untuk berita yang dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka. Namun, mereka akan membaca serius semua berita/artikel/iklan/opini yang berhubungan dengan dunia mereka. Bahkan kalau perlu dibaca ulang hingga benar-benar memahami essensinya.

Dalam obrolan santai pun, pola itu berlanjut. Obrolan kelompok kaya tidak melebar kemana-mana. Jika berprofesi pengusaha, selain guyon ngalor ngidul, sesekali mereka menyisipkan bahan obrolan yang masih berbau pekerjaan/bisnis. Mereka tidak tertarik membahas persoalan politik atau hal lain yang tidak ada hubungannya dengan dunia mereka.

Saya memperoleh pengalaman berbeda ketika hang out dengan kelompok belum kaya. Sahabat saya yang bekerja di sebuah bank bisa berlagak layaknya pengamat politik. Ia bisa menghabiskan waktu 3 jam untuk membahas masalah carut marut politik di negeri ini. Ia pun seolah ahli dalam bidang hukum, kasus korupsi wisma atlet dan hambalang bisa ia kupas semua persoalannya. Teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan percetakan juga tak jauh beda, persoalan Pemilukada, belah durian Jupe hingga kasus kawin cerai Krisdayanti bisa ia urai semua detailnya.

Sebagai orang yang masih berada dalam kelompok belum kaya, saya pun sadar jika belum bisa menyaring sampah dengan baik. Saya sering membunuh waktu dengan melahap beragam berita yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, lingkungan dan ruang gerak saya. Jika sedang nganggur, tayangan infotainment pun saya pelototi. Di satu sisi saya memperoleh wawasan baru, namun di sisi lain saya kehilangan kesempatan untuk menambah ilmu bisnis dan hal lain yang lebih bermanfaat.

Apakah sikap kelompok belum kaya itu salah? Tidak, justru mereka telah membuktikan sebagai orang yang pandai dan memiliki kepedulian tinggi terhadap berbagai hal. Saya tetap yakin bahwa semua berita itu ada gunanya. Hanya saja, jangan sampai terjebak dalam situasi kehilangan fokus. Maksudnya, terlalu banyak menelan dan membahas persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia kita hingga tidak memiliki banyak waktu untuk meningkatkan kompetensi dan pengembangan diri.

Bagaimana dengan sikap kelompok kaya? Mereka memang terbukti bisa lebih fokus. Meskipun di sisi lain, wawasan mereka tidak seluas orang-orang yang melahap semua berita dari media massa. Karena saya ingin bisa masuk kelompok kaya, saya pun merasa perlu belajar menyaring sampah media agar prosesor otak saya tidak menjadi lemot dan letoy.

Bagaimana dengan Anda?

*Penulis novel dan pengusaha properti