Menulislah Tanpa Mengeksploitasi Penyandang Disabilitas

Menulislah Tanpa Mengeksploitasi Penyandang Disabilitas

Diskusi jurnalis bertajuk Local Media Orientation For Journalists yang digelar di Hotel Primebiz, Surabaya, Selasa (13/2/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Peran jurnalis sangat besar dalam memberikan dukungan terhadap penyandang disabilitas. Karena itu, perlu upaya kreatif dan nyata dari jurnalis untuk menyadarkan publik terkait isu tersebut.

Hal itu mengemukan dalam diskusi bersama jurnalis dengan tema Local Media Orientation For Journalists yang digelar di Hotel Primebiz, Jalan Kebon Gayungsari Surabaya, Selasa (13/2/2018).

Acara bertajuk “Ayo Inklusif” tersebut diadakan The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP), United Tractors (UT), Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya, Saujana, dan Christoffel Blindenmission (CB).

“Para jurnalis perlu menulis tanpa mengeksploitasi disabilitas secara berlebih,” kata Mohammad Syifa, redaktur Radar Kediri.

Menurut Syifa, panduan penulisan tersebut merupakan bentuk implementasi konsep jurnalistik berbasis ilmu pengetahuan. Dalam konsep tersebut, Jurnalis harus memiliki background ilmu pengetahuan agar berita yang dihasilkan kredibel.

Lantas ia mengutip pernyataan Mathew C Nisbet & Declan Fahy (2015) yang menjelaskan ada tiga peran jurnalis atau wartawan. Yaitu, sebagai broker atau penghubung pengetahuan, broker dialog, dan broker kebijakan.

“Ketiga peran yang dimiliki oleh jurnalis itu, bagi saya merupakan peran yang sangat penting. Karena, buah karya jurnalis dapat menjadi dasar literasi opini publik. Jadi untuk itu kami berharap jurnalis dapat lebih bijak menelurkan karya-karyanya yang berkaitan dengan penyandang disabilitas,” ungkap dia.

Dia lalu menuturkan, untuk membuat karya jurnalistik yang berhubungan dengan penyandang disabilitas, jurnalis disarankan menghindari emotion driven journalism atau pemberitaan yang bersifat mengaduk perasaan dengan eksploitasi kelemahan disabilitas yang menyebabkan kesedihan. Salah satunua meminimalisasi angle pemberitaan bersifat inspiration porn. Dalam arti memberitakan seseorang disabilitas dapat sukses hanya karena mengeksploitasi disabilitas.

“Sebagai seorang jurnalis kita harus dapat menonjolkan kemampuan si penyandang disabilitas. Bukan lantas menonjolkan kelemahan narasumber yang merupakan seorang penyandang disabilitas,” tegas dia.

Jadi, menurut dia, yang harus dilakukan jurnalis dalam menulis penyandang disabilitas adalah meningkatkan kemampuan dengan memperdalam wawasan.

“Dengan itu, para jurnalis tidak akan kesulitan dan tidak akan mengeksploitasi kesedihan dari penyandang disabilitas. Para jurnalis, dapat melahirkan karya yang baik dengan angle yang bagus tanpa menyinggung hati penyandang disabilitas,” terang dia.

Heti Palestina Yunani, staf pengajar Stikosa AWS, menambahkan dalam menulis penyandang disabilitas jika dikaitkan dengan perspektif gender menjadi isu super sensitif.

“Jika digabungkan, kedua isu tersebut menjadi buah karya yang menarik. Namun, jika kita sebagai jurnalis tidak dapat meramu kedua isu tersebut dampaknya krusial sekali,” tegas dia.

Menurut dia, untuk menulis karya yang berhubungan dengan penyandang disabilitas butuh pemilihan kata yang tepat dan cerdas agar dapat menumbuhkan perspektif baru.

“Pemilihan bahasa yang cerdas ini juga untuk menghindari stereotype bahwa kita hanya dapat menulis penyandang disabilitas dari sudut pandang kekurangannya saja,” tuturnya.

Heti juga memaparkan, jika jenis karya jurnalis feature menjadi gaya penulisan yang wajib dikuasai. Karena dalam karya feature ada gaya penulisan dua arah yang memiliki kekuatan cerita.

“Dengan gaya feature, jurnalis dapat lebih menggali lebih dalam. Terlebih, para jurnalis dapat menghasilkan karya yang lebih detail dan bisa mendatangkan opini positif bagi masyarakat yang membacanya,” cetus dia. (wh)

 

Berikan komentar disini