Menguatkan Data Demi Keadilan Sosial

Menguatkan Data Demi Keadilan Sosial

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult

Selasa (30/10/2018) lalu, saya menumpangi taksi konvensional menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Dalam perjalanan, saya berbincang dengan sang sopir. Dia cerita banyak hal. Tak terkecuali keluhan sepinya penumpang.

“Sejak hadirnya online, pendapatan menurun. Keluarga berantakan. Sudah lima tahun saya tidak bisa pulang. Belum ada biaya,” ucap sopir taksi ini, mengawali ceritanya.

Sopir yang mengaku punya keluarga di Aceh ini, memiliki lima orang anak. Anaknya pertama dan kedua sudah lulus SMK. Belum bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. Mereka kini membantu di kebun orang. Memetik kelapa untuk dijual ke pasar. Pendapatan yang diperoleh tak seberapa.

Di Jakarta, sopir ini tinggal di penginapan yang disediakan perusahaan. Fasilitasnya sangat minim. Hanya itu pilihannya. Karena untuk biaya kos, ia mengaku berat. Rata-rata, kos-kosan di pinggiran Jakarta paling murah Rp 600 ribu sebulan. Harus menabung dulu kalau mau tinggal di kos-kosan.

Sejak pagi hingga sore, dia baru mendapat Rp 250 ribu, dua rit. Rasanya sangat kecil kalau melihat potensi penumpang di seputar Jakarta. Namun itulah faktanya. Persaingan antarmoda transportasi memang makin ketat.

“Kami berharap pemimpin tahu kondisi ini, Mas. Banyak aturan yang harus kami taati, tapi online sangat longgar,” cetus dia, sambil menunggu saya memberi ongkos setelah tiba di pemberangkatan bandara.

Pengakuan sopir taksi konvensional ini membuat banyak sekali analisis. Baru satu fakta, tak bisa dijadikan dasar sampel. Belum lagi kalau kita bertabayyun pada pengelola mode transportasi lain. Tentu banyak jawaban. Seperti saat saya melihat banyak perempuan menunggu taksi online di pusat perbelanjaan. Saat mobil tiba, karena merek dan nomor mobil sudah dikenali lewat aplikasi, mereka berbondong keluar menuju penjemputan. Pelanggan transportasi bak raja dan ratu. Mendapatkan layanan sangat spesial.

Pun pagi ini, saya bersebelahan dengan pengendara motor online ketika berhenti di lampu merah. Dia terlihat sibuk dengan smartphone-nya. Rona wajahnya  penuh semangat. Seakan ingin berkata,”Pagi ini memulai kerja. Memiliki nilai buat keluarga. Memberikan manfaat buat sesama.” Lamunanku buyar saat bunyi klakson mobil di belakang. Mengingatkan harus melaju karena lampu traffic light menyala hijau.

Saya lantas teringat saat sesi text mining pada Marketing Analysis Training, akhir bulan lalu. Saya berikan contoh layanan pelanggan di perusahaan perbankan terkenal dan satu layanan transportasi online. Ada satu kata kunci soal bisnis: harus ada corporate value dan social value. Social value ini sangat berdampak pada proses kerja, semangat, dan target yang harus dipenuhi.

Jumlah pengangguran terbuka, bonus demografi yang harus dikelola dengan baik, angka kemiskinan harus ditangani di tengah derasnya arus perubahan teknologi seperti disrupsi yang tak bisa dihindari, menjadikan pemimpin harus bijak. Menggerakkan semua komponen untuk menguatkan data dari berbagai sumber agar analisis dan keputusan memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Salam.

Marketing Analysis 2018

1 komentar di “Menguatkan Data Demi Keadilan Sosial

Komentar di tutup.