Menghitung Sisa Waktu

Menghitung Sisa Waktu

Suwandono, Pengusaha properti dan penulis buku

 

*) Oleh: Suwandono

Seorang lelaki paro baru yang menemui saya usai membaca tulisan saya di koran. Dia mengajak diskusi tentang perlu tidaknya alih profesi atau mengubah arah bisnis. Lelaki itu berkarier di sebuah perusahaan pembiayaan dan punya usaha kuliner yang dikelola istrinya. Ia mengaku tak punya problem finansial, hanya saja keadaannya saat ini masih jauh dari yang ia impikan.

Ketika ia selesai melepas uneg-unegnya, saya tersenyum sambil berkata, “Kita senasib”. Mengapa saya katakan itu? Karena saya pun pernah punya persoalan serupa. Lantas, saya berbagi pengalaman ketika kegalauan seperti yang ia alami itu menyerang saya.

Waktu itu, keadaan finansial saya sudah cukup OK. Punya tabungan aset yang bisa menjamin keamanan hidup keluarga, bisnis pun berjalan normal. Lantas, dimana persoalannya? Saya ingin menggapai lebih. Sebenarnya keinginan macam itu amat manusiawi, kodrat kita sebagai manusia cenderung ingin lebih dan lebih. Saya punya impian untuk bisa begini dan begitu. Semula saya tetap optimis semua impian itu bisa tergapai. Namun, keraguan mulai merasuk tatkala usia mendekati kepala empat.

Perlahan, optimisme itu tergerus realitas. Mulai ragu semua impian itu bisa diraih. Meski berusaha menghibur dan memotivasi diri, saya masih acap galau. Akhirnya, saya mengambil langkah untuk menginventarisasi potensi yang ada dan menghitung sisa waktu. Tujuannya agar tau posisi saya saat ini dan memprediksi keadaan masa depan dengan lebih realistis.

Saya mematok akan pensiun di usia 55 tahun. Pensiun dalam artian lebih banyak menggunakan waktu untuk menikmati hidup. Dengan patokan itu, saya mendapati sisa waktu optimal tinggal 18 tahun. Saya mencoba membuat itung-itungan hasil yang akan diperoleh selama sisa waktu optimal itu bila tetap mengandalkan pola bisnis, strategi, etos kerja, serta ruang pergaulan yang telah saya jalani selama ini. Saya assumsikan semua bisnis berjalan normal. Alhasil, diperoleh gambaran keadaan atau posisi saya di usia 55 tahun yang akan datang.

Lantas, saya bertanya pada diri sendiri : “Apakah sudah puas dengan hasil itung-itungan itu? Apakah sudah mencerminkan semua impian saya?” Setelah merenung, ternyata jawabannya: “Belum puas dan masih jauh dari impian”.

Atas dasar jawaban itulah, tumbuh tekad untuk melakukan perubahan. Apa saja yang harus saya ubah? Pola dan strategi bisnis, etos kerja, manajemen waktu, fighting spirit, ruang pergaulan, dan banyak hal lainnya. Pola bisnis biar pelan asal selamat, saya ganti harus cepat tapi selamat. Etos kerja santai saya gusur dan dibangun etos baru yang penuh semangat. Saya berusaha menembus ruang pergaulan yang lebih tinggi, bekerja lebih cerdas lagi, dan seterusnya. Intinya, saya harus berpacu dengan sisa waktu yang ada.

Apakah sekarang saya sudah berhasil menggapai semua impian itu? Belum. Namun, saya merasa sudah berada di jalur yang tepat untuk menuju tujuan. Semangat saya menggebu-ngebu, dan merasa punya energi lebih untuk mengejar semua impian. Apakah nantinya saya bisa mewujudkan impian itu atau tidak adalah persoalan yang berbeda. Semua perubahan positif itu jauh lebih penting dari pada hasil akhirnya.

Andai nantinya semua impian itu tidak terwujud, Apakah saya akan kecewa? Jawabannya: Tidak. Karena menyadari bahwa masa depan itu penuh ketidak pastian, maka dalam upaya mengejar semua impian itu, saya berusaha menikmati semua momennya. Tahapan-tahapan perubahannya sudah membuat bahagia. Jika nantinya impian bisa terwujud, kebahagiaan saya kian berlipat. Andai tak terwujud pun, saya sudah bahagia dengan semua prosesnya.

Konsep inventarisasi potensi dan menghitung waktu inilah yang saya sampaikan kepada pembaca Koran yang menemui saya itu. Ia pun sependapat. Apakah ia harus alih profesi dari pegawai menjadi wirausaha penuh? Apakah harus mengubah pola dan arah bisnis yang sekarang dikelola isterinya? Ia pasti bisa menemukan jawabannya setelah melakukan inventarisasi potensi, menghitung sisa waktu optimal, mempredikasi hasil akhir bila tidak ada perubahan, dan bertanya pada diri sendiri apakah bisa menerima hasil prediksi itu atau tidak.

Andai saja jawabannya “bisa menerima hasil hitungan,” maka tak harus melakukan perubahan radikal. Ia bisa bekerja seperti biasanya dan berusaha menikmati hidup dengan apa yang ia bisa dan punya.

Apakah konsep inventarisasi potensi dan menghitung waktu ini bertentangan dengan konsep bersyukur? Tidak. Justru bisa berjalan seiring karena kita harus mensyukuri setiap momen dan tahapan yang dilewati. Sekarang bersyukur, besok bersyukur, dan seterusnya.

Konsep ini tak hanya cocok diterapkan dalam konteks pencapaian impian yang berbau materi. Juga amat efektif untuk pencapaian tujuan rohani (akhirat). Saya pernah mencobanya. Hasilnya sungguh mengerikan. Alih-alih punya banyak bekal untuk berpulang, ternyata saya masih punya banyak hutang perbuatan baik yang harus saya lunasi. Kesimpulannya, saya harus melakukan perubahan radikal untuk bisa mencapai tujuan rohani. Bagaimana dengan Anda? (*)

 

*) Pengusaha properti dan penulis novel

Marketing Analysis 2018