Mengenal John Hanke, Pencipta  Game Pokemon Go

Dunia dilanda demam Pokemon Go. Sejak diluncurkan pada 6 Juli lalu, game ini sukses membius banyak orang. Bagaimana tidak, hanya dalam kurun waktu  sepekan diluncurkan, pengguna game ini telah membludak hingga mencapai 50 juta orang. Rekor ini melebihi aplikasi populer lain seperti Facebook, Snapchat, Instagram dan Whatsapp

Kesuksesan yang diraup Pokemon Go tidaklah datang dengan mudah. Dilansir dari laman storypick.com, pengembangan game ini ternyata memakan waktu hingga dua puluh tahun.

Pencetus pembuat game ini bernama John Hanke. Hanke memulai pengembangan game Pokemon Go ini pada tahun 1996 ketika masih berstatus sebagai mahasiswa. Game pertama yang ia buat bernama Meridian 59. Game tersebut menganut konsep MMO (massively multiplayer online game) yang memungkinkan game untuk dimainkan oleh beberapa orang.

Ia kemudian memiliki visi yang lebih besar. Game tersebut ia jual sembari bercita-cita untuk bisa membuat game yang terintegrasi dengan lokasi wilayah secara nyata.

Di tahun 2000, Hake meluncurkan aplikasi Keyhole yang bisa mengintegrasikan GPS dengan peta permukaan di dunia. Aplikasi tersebut kemudian dibeli oleh Google.

Keyhole merupakan cikal bakal dari aplikasi berbasis GPS Google Earth yang terkenal hingga kini. Setelah sukses menelurkan program tersebut, Hanke pun memilih fokus untuk mengembangkan game berbasis GPS.

Visi besarnya tersebut tercipta pada tahun 2010. Ia mendirikan Niantic Labs, sebuah perusahaan rintisan yang berdiri dibawah dana sokongan Google. Niantic Labs memiliki misi untuk menciptakan game yang bisa dimainkan secara nyata. Salah satu caranya adalah dengan mengintegrasikan game tersebut dengan data GPS. “Saya selalu berpikir bahwa saya bisa membuat game canggih dengan menggunakan data GPS yang kita miliki. Penggunaan ponsel yang semakin berkembang menjadi peluang besar untuk mengembangkan game petualangan yang bisa terkoneksi dengan dunia nyata,” tutur Hanke.

Game pertama yang diciptakan Niantic Labs bernama Ingress. Game yang diluncurkan pada tahun 2012 ini memungkinkan pemain untuk memainkan permainan sesuai dengan area yang terlihat di GPS.

Ingress menuai sambutan positif di pecinta game. Kesuksesan ini membuat Hanke semakin semangat untuk mengembangkan game lain dengan konsep yang sama.  Hanke pun memutuskan untuk mengembangkan game Pokemon Go. Inspirasinya datang pada tahun 2014. Di tahun itu, Google dan Pokemon Company bekerja sama untuk merayakan April Fools Day.

Pengguna aplikasi Google Map akan dihibur dengan kehadiran Pokemon di dalamnya. Banyak pengguna yang suka dengan konsep tersebut. Modal itulah yang dipakai Hanke untuk meluncurkan Pokemon Go.

Hanke menggunakan data yang sebelumnya di dapat dari permainan Ingress. Ia kemudian menambahkan fitur lain yang dapat memanjakan pengguna game Pokemon Go seperti Pokestops dan Gym. “Lokasi Pokestops ditentukan oleh pengguna. Tempat tersebut muncul berdasarkan dari data tempat-tempat apa saja yang sering dikunjungi oleh pengguna,” jelas Hanke.

Hanke berhasil mengumpulkan dana mencapai USD 25 juta dari Google, Nintendo dan Pokemon Company. Uang tersebut dipakai untuk merekrut anggota tim lebih banyak agar game tersebut dapat diluncurkan pada tahun ini.

Akhirnya pada tanggal 6 Juli lalu, game Pokemon go diluncurkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru. Sejak diluncurkan, game ini sukses menduduki urutan tertinggi aplikasi yang banyak diunduh dan aplikasi terlaris, baik di Android maupun iOS.

Walaupun kesuksesan dan kepopuleran “Pokémon Go” masih dihalangi masalah privasi dan keamanan, serta berbagai risiko ketika memainkan permainan ini, tetapi kesuksesan permainan ini terus meningkat.

Game ini mampu menarik keuntungan hingga USD 2 juta per hari. Saham Nintendo pun naik hingga 25 persen akibat popularitas Pokemon Go.

Nintendo berencana mengeluarkan alat portabel yang dapat memainkan Pokémon Go tanpa menggunakan smartphone yang diberi nama Pokémon Go Plus. Belum banyak informasi terkait alat ini, tapi Pokémon Go Plus diperkirakan dijual dengan harga USD 35 atau sebesar Rp 459 ribu. (lp6)

Marketing Analysis 2018