Mengelola Sekolah Modern

Mengelola Sekolah Modern

*) Oleh : M Sholihin Fanani

Banyak lembaga pendidikan menginginkan sekolahnya maju berkembang dan diminati banyak wali murid. Harapannya, mereka mampu menarik perhatian masyarakat. Sehingga tidak pusing lagi memikirkan cara mendapatkan murid baru sesuai pagu yang dibutuhkan.

Keinginan tersebut tentu sangat wajar. Mengingat persaingan lembaga pendidikan dari tahun ke tahun sangat ketat dan sengit. Berbagai tawaran diberikan lembaga pendidikan untuk bisa meyakinkan kepada publik. Mulai dari fasilitas, kegiatan, prestasi, dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, masyarakat cenderung pragmatis dalam memilih sekolah. Mereka hanya ingin anaknya menjadi anak yang baik, pandai, dan berprestasi. Mereka tidak terlalu risau dengan biaya yang dikeluarkan. Semakin mapan status sosialnya, mereka akan mencari sekolah yang mahal. Mereka berkeyakinan, sekolah mahal menjanjikan fasilitas dan sistem yang berkualitas.

Catatan saya, ada tiga ciri sekolah modern. Pertama, memiliki pelanggan yang fanatik. Pelanggan fanatik adalah mereka yang merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh sekolah. Mereka menceritakan tentang kepuasan yang diperolehnya kepada orang lain. Dan mereka akan merekomendasikan kepada orang lain untuk mengikuti jejaknya.

Siapakah sesungguhnya pelanggan sekolah itu? Pelanggan sekolah antara lain, siswa, orang tua, guru, karyawan, dan masyarakat pada umumnya. Mereka ini harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Karena citra sekolah dipertaruhkan. Ada yang mengatakan “pelanggan adalah raja”.

Kedua, memiliki guru dan karyawan yang fanatik. Guru dan karyawan yang fanatik adalah guru dan karyawan yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap sekolah. Mereka tidak hanya bekerja. Tetapi juga ikut memikirkan kelangsungan sekolah. Turut memecahkan masalah yang dihadapi oleh sekolah. Juga memiliki rasa bangga karena menjadi bagian dari sekolah tersebut. Mereka akan selalu menjaga kualitas kerjanya dan selalu meningkatkan kompetensinya.

Ketiga, memiliki basic keuangan yang kuat. Uang memang bukan segala-galanya. Tetapi segala-galanya butuh uang. Cara mengatur keuangan yang baik bukan bagaimana cara untuk mendapatkan uang, tetapi cara yang tepat dalam menggunakannya.

Sistem keuangan yang baik bukan efisiensi, tetapi efektivitas. Artinya, menggunakan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau organisasi atau sekolah.

Sebaiknya sekolah tidak hanya menjadikan siswa sebagai satu-satunya sumber keuangan. Tapi melibatkan masyarakat luas untuk membesarkan sekolah adalah sebuah keterampilan tersendiri menjadi kepala sekolah.

Banyak masyarakat yang masih memiliki kepedulian untuk berjuang dalam dunia pendidikan. Hanya masyarakat sering kesulitan akses ke sekolah tersebut. Bila mereka dilibatkan, mereka akan sangat senang dan bangga. (*)

*) Penulis adalag praktisi pendidikan tinggal di Surabaya.

Marketing Analysis 2018