Mengatur Kerja Pikiran

Mengatur Kerja Pikiran

Roudlon Fauzani

*Oleh : Roudlon Fauzani

georgeroudon@yahoo.com

 

Sifat kerja pikiran adalah menarik hal sejenis. Bila pikiran kita negatif, maka yang akan terus muncul di pikiran kita hal-hal negatif, begitu juga sebaliknya.  Demikian statement Prof Dr Ibrahim Elfiky, seorang motivator muslim dunia asal Mesir. Kata-kata itu ditulis dalam bukunya yang bestseller  How To Success dan Rich.

Terus terang, saya tiba-tiba ingin menulisnya. Bukan bermaksud menasihati orang lain atau siapapun, tapi menasihat diri saya sendiri. Tulisan Elfiky tersebut bukanlah kebetulan. Kalimat itu didapat setelah dirinya saat didera masalah besar hingga nyaris meninggal dunia. Juga diperkuat dengan hasil research bertahun-tahun di berbagai negara dalam kegiatan motivasi.

Saat mahasiswa, ketika baca buku tersebut, saya anggap angin lalu, cuma saja jadikan referensi belaka. Namun, seiring perjalan waktu dan usia, saya harus mengakui kalimat Elfiky tersebut benar-benar dahsyat. Itu bukan hanya kata-kata biasa. Paling tidak, bisa jadi jawaban atas misteri hadis Nabi yang melarang umatnya bersedih berlama-lama.

Maka, tak heran bila ada orang memperpanjang kesedihannya, yang datang bukan rasa puas menemukan kebahagiaan, tapi justru kesedihannya semakin dalam dan dalam. Bila tidak dihentikan, ending-nya bisa-bisa stres, depresi, dan sejenisnya. Itu juga yang terjadi pada orang yang kerja pikiran sehari-harinya dibuat senang, makin hari makin senang dan makin senang. Hal-hal menyenangkan yang muncul di benak pikiran.

Itulah yang disebut dengan kekuatan pikiran (the power of mind). Pikiran akan menarik hal-hal sejenis. Bila kerja pikiran diarahkan ke hal negatif seperti mencari kejelekan orang lain, curiga, atau lainya, maka yang muncul di pikiran adalah hal sejenis. Pikiran kita akan terus diisi dan disuguhi informasi kejelekan orang itu. Bila semakin larut, kerja pikiran kita akan terus menerima hal-hal jelek tentang orang itu karena manusia memang tidak lepas dari salah dan dosa. Orang tersebut seperti tidak ada baiknya. Semua jadi jelek, padahal sisi positifnya juga banyak.

Bila keterusan, yang capek bukan orang yang dicurigai, tapi diri sendiri. Sebab, kita semakin larut mencari tahu jeleknya dan semakin sensitif terhadap orang tersebut. Apalagi bila orang yang dijahati tiba-tiba memiliki sesuatu lebih dari kita, tak jarang kita sendiri menjadi mati ngenes. Bukan karena kurang makan, tapi tak rela melihat orang tersebut hidup enak, hidup bahagia, dan lain sebagainya.

Maka, tak heran bila Rasulullah jauh-jauh hari sudah mengingatkan umatnya agar tidak bersikap iri hati, dengki, dan hal negatif lainnya. Karena yang akhirnya rugi bukan orang yang kita jahati, justru kita sendiri. Bersikaplah positif dan lapang dada. Memaafkan orang yang berbuat salah ternyata bisa mengurarngi beban batin, ketimbang harus terus memendamnya dalam hati yang justru membebani diri kita sendiri.

Pun dengan orang yang mengarahkan pikirannya pada hal-hal positif, pikirannya akan terus diisi dan disuguhi informasi menyenangkan karena menarik hal sejenis. Sama seperti orang tua baru punya anak pertama, yang datang adalah hal-hal menyenangkan, meski sehari harus seratus kali ganti pakaian karena diompoli (dikencingi). Beda kalau mengarahkan pikiran selalu curiga, yang datang informasi-informasi jelek soal orang itu.