Menciptakan Keseimbangan Pasar

Menciptakan Keseimbangan Pasar

Kresnayana Yahya, Enciety Business Consult, foto: arya wiraraja/enciety.co

Jatuhnya harga minyak dunia saat ini membuat sebagian lembaga para pelaku usaha mengalami kebangkrutan. Karena sebelumnya harga minyak dunia mencapai harga 60 dolar per barel, lalu saat ini harga tersebut telah menyentuh angka 27 hingga 28 dolar per barel. Ini menyebabkan banyak para pelaku usaha yang memutar otak dan bermain untuk dapat mengejar ketertinggalan dari kerugian tersebut.

Di luar negeri, ada isyarat jika ada penurunan suku bunga bank yang ada di berbagai negara. Namun ada sebagian para pelaku ekonomi dunia yang bermain cantik untuk dapat keluar dari permasalahan tersebut dengan mencetak uang lebih banyak dan membiarkan suku bunga bank tetap rendah. Saat ini, langkah tersebut dilakukan oleh Amerika dan Jepang. Selain itu, ada langkah yang lebih konservatif seperti yang dilakukan oleh Inggris dan Uni Eropa.

Dengan menggunakan kuantitatif ising, namun tidak menurunkan suku bunga bank, hal ini dilakukan agar menghadirkan equilibrium  (keseimbangan pasar) agar para pelaku bisnis ini dapat bangkit.

Yang harus dilakukan olehperekonomian Indonesia ke depan adalah harus menurunkan suku bunga bank. Hal ini dilakukan agar mendorong tumbuhnya para pebisnis baru. Selain itu, para pebisnis lama dapat berkembang dengan melakukan ekspansi dalam bidang bisnis yang lain.

Langkah tersebut harus diambil oleh dunia perekonomian nasional, bukan malah membiarkan para pelaku bisnis dari luar negeri untuk datang dan bebas bermain dalam dunia perekonomian nasional. Pemerintah seharusnya dapat mengatasi hal tersebut dengan melakukan proteksi secara kultural. Semisal, dalam bidang kuliner. Perputaran uang dalam bidang ini mencapai Rp 600 miliiar dan pemerintah dapat membuat peraturan 70 persen bahan baku dari dalam negeri. Hal ini dilakukan agar mereka tidak mendatangkan bahan baku import dari negaranya.

Selain itu, jika pemerintah juga harus dapat memastikan agar para pelaku usaha lokal dapat meningkatkan kualitas produksi hingga barang hasil produksinya. Perlu dimengerti, jika yang terjadi saat ini adalah kita masih saja berebut pekerjaan. Banyak negara ASEAN memiliki tingkat pengangguran cukup tinggi. Di antaranya Filipina yang memiliki tingkat pengangguran riil sebesar 7 persen, jika dibandingkan tingkat pengangguran di Indonesia sebesar 5 persen. Namun angka tersebut adalah data yang tertulis, sedangkan untuk angka riilnya mencapai 12 persen.

Proteksi dalam bidang ketenagakerjaan yang ada di Indonesia sudah sangat keterlaluan. Contohnya, saat ini kita telah mendatangkan Office Boy (OB) dari luar negeri, karena dianggap tenaga kerja kita tidak dapat melayani kebutuhan dan standarisasi yang ditentukan oleh perusahaan-perusahaan asing, hal ini yang harus dibenahi.

Sebenarnya, Indonesia saat ini telah memiliki kemampuan untuk dapat memajukan kualitas para tenaga kerja yang ada. Lembaga-lembaga pendidikan kita saat ini sebenarnya sudah mumpuni. Hanya saja saat ini peran mereka hanya sekadar meluluskan para tenaga kerja tanpa adanya pengalaman yang memadai ketika para siswa tersebut telah lulus.

Ke depan lembaga-lembaga ini harus lebih konsentrasi dalam praktik lapangan, karena orientasi yang sebenarnya adalah kita melatih mereka untuk bekerja dan bukan hanya untuk belajar. Contohnya Filipina, mereka telah melakukan hal tersebut.

Lantas, ia menjelaskan jika perkembangan ekonomi nasional sejatinya sangat dipengaruhi oleh equilibrium (keseimbangan pasar). Kepastian pasar sangat menentukan. Kendali supply dan demand (penawaran dan permintaan) menjadi hal yang penting.

Contohnya, para petani cabai, mereka mau menanam cabai dengan harapan ketika nantinya panen, hasil produksi mereka dapat laku di pasaran, selain itu mereka juga dapat berhitung keuntungan yang didapat dari kerja keras mereka. Saat ini, keterbukaan informasi sangat diperlukan oleh para pelaku usaha agar dapat bangkit pada tahun 2016 ini. (wh)